Pengumuman: I’m leaving blogsome!

17 July 2008, posted in personal, 1 Comments

PINDAH!! PINDAH!! PINDAH!!!

Setelah setahun lebih ngeblog di sini, I think it’s time to say goodbye. Dua hari lalu saya baru saja menyewa server sendiri, sekaligus mendaftarkan domain sendiri.

http://www.basfinsiregar.com

Di sanalah saya ngeblog sekarang. My new home in blue nowhere.

Cukup banyak sebenarnya postingan2 penting yang saya taruh di sini. Misalnya about my marriage and the death of my mother. Tapi saya belum berpikir untuk memindahkannya ke situs baru saya.

Perhaps, postingan2 itu sebaiknya tetap berada di sini. Mudah2an server blogsome tetap jalan dan my account tidak didelete setelah saya tidak lagi aktif di sini.

Tapi kalau toh blog ini didelete oleh admin, well, apa boleh buat. Perhaps it’s really a sign that I have to move on.

So, ini mungkin posting terakhir saya di blogsome. Trims a lot buat teman2 yang telah banyak memberi masukan selama saya menetap di server ini.

I’ll see u soon at my new home.

Sewa server sendiri?

20 June 2008, posted in personal, 3 Comments

Saya sedang berpikir untuk menyewa server sendiri. Have my own domain, www.basfin.com, maybe? hehehe..

Kenapa masih perlu mikir, well, coz it’s all about money. Masih banyak kebutuhan lain yang –bisa jadi– jauh lebih urgen dari sekadar sewa server.

Misalnya saja beli kulkas (yg agak gede), mesin cuci (probably), pasang ac (masih probably lah) atau laptop ASUS core 2 dua dg memory min 1 giga (hehe), atau mungkin apartemen di rasuna? (haiyah.. nek ini ndobol tenan..)

Hanya masalahnya blogging is semacam hobi. Aktivitas klangenan. Pararel dengan orang Jawa yang hobi melihara perkutut, ikan, atau merpati.

And hobby needs money. Dan ketika sudah sampai urusan ‘money”, secara otomatis otak kiri biasanya bergegas. Command center on, mengkalkulasi. Can i afford it? Do i really need it? Is it really useful?

Hmmm.. perhaps I can afford to pay for my own server. But why should I?

Setiap orang terkadang butuh alasan sendiri untuk bergerak. Kalau dalam film Patriot yang dibintangi Mel Gibson, ia baru berperang melawan pasukan Inggris setelah anaknya terbunuh. Before that, he chose to stay uninvolved.

Mungkin urusan sewa server ini akan jadi makin serius ketika tiba-tiba server blogsome hang, atau dihack, hingga semua tulisan saya di sini hilang. Bisa jadi saat itu baru saya mulai bergerak.

Hmm.. kok ribet ya? Well, seandainya saya bergaji seperti narasumber2 yang saya wawancarai, yang sekali makan siang bisa habis Rp 500 ribu, tentu urusannya tidak akan ribet, hehe

Tapi harap maklum. Sebagai warga kelas-menengah-terkadang-nyaris-ke-bawah, money does matter. Dan beginilah cara saya untuk tetap survive di tengah naiknya harga minyak dunia yang mengimbas harga barang kebutuhan pokok dan memaksa pemerintah RI mencabut subsidi minyak agar bisa menyesuaikan dengan harga internasional yang terus naik itu yang sebenarnya merupakan ulah para spekulan2 brengsek di Nymex dan ICE Futures London dan mengabaikan fakta bahwa rakyat Indonesia –saya di antaranya– masih belum memiliki pendapatan internasional.

Mungkin saya sebaiknya bekerja di oil company saja? Exxon atau ConocoPhillips? Hmm.. that’s quite a thought. Saya misalnya bisa menjadi media officer dan meyakinkan publik kalau oil company is not greed, bahwa pajak yang mereka bayar dan program CSR mereka adalah bukti tulus betapa oil company sangat menghargai kesediaan pemerintah RI untuk dikuras kekayaan alamnya lewat mekanisme kontrak karya yang sama-sama menguntungkan kedua belah pihak.

Bagaimana ya? Sepertinya menarik. …but the answer is no. I love my job now.

So? yah, sepertinya ide menyewa server sendiri harus masuk waiting list dulu di salah satu sel-sel kelabu di kepala. But who knows. Sometimes saya juga bosan being organized, compact, and structurized seperti tradisi filsafat Jerman.

I do sometimes can be impulsive, sporadic, and just fly in the air. Posting yang sedang Anda baca ini adalah buktinya.

Buku seorang muslimah lesbian

02 May 2008, posted in sophie, books, art, literature, 7 Comments

Image Hosted by ImageShack.us

Selasa, 22 April lalu.
Sekitar pukul 1 dini hari, pas udah mau tidur, tiba-tiba hpku bunyi. Ada sms masuk. Aku sempat kaget juga. Who the hell sms tengah malam begini?

Ternyata dari Luqman, teman sekaligus bekas kolega di Gatra. Dia tadinya repoter Gatra. Tapi tahun 2005 ia memutuskan resign dan beralih ke bisnis penerbitan.

Isi smsnya sederhana. Nun Publisher (penerbit yang ia dirikan) akan me-launch buku Irshad Manji berjudul “Beriman Tanpa Rasa Takut”. Buku itu adalah terjemahan dari versi Inggris The Trouble with Islam Today: A Muslim Call to Reform Her Faith.

Pengarangnya sendiri, Si Irshad Manji, juga akan datang pas launching, yang akan dilangsungkan di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Dont’ miss it. Pembicara: Irshad Manji, Gus Dur, Muethia Hatta, Musdah Mulia & dimeriahkan oleh artis2 (Lola Amaria dkk).

Hehehe.. Luqman… Luqman…. dasar sms promosi. Segala nama dibawa-bawa.

Aku sebenarnya sudah berniat datang. Sayang, acara launching itu bertepatan dengan media gathering yang diadakan sebuah perusahaan farmasi -dan sebelumnya aku sudah janji akan datang.

Well, apa boleh buat. I missed the book launch. Perhaps next time.

Hari ini di Gramedia, aku lihat buku Irshad Manji itu sudah ada. Harganya Rp 55.000. (mahal, ya?)

Aku sendiri tidak berniat membeli buku itu. Perhaps I’ll never will. Bukan karena harganya mahal, tapi karena pengarangnya, Irshad Manji, adalah seorang lesbian.

(Lho, apa masalahnya? bisa jadi Anda bertanya begitu).

My answer is, kalo yang hombreng atau lesbi itu adalah non-muslim, atau muslim tapi dia diam-diam saja, that’s their own business with Allah.

Tapi ketika seorang wanita muslim mendakwahkan pemikirannya tentang Islam, but at the same time she is a lesbian, that’s a problem.

Bisa jadi ada yang berbeda pendapat. But my stance on homosexsuality and lesbianism, insyaallah sampai sekarang, is still clear. HARAM.

Period.

Terkadang saya tidak habis pikir mengapa sesuatu yang sudah jelas bisa jadi kabur begini.

Bayangkan saja ada pertanyaan multiple choice seperti ini:

Apakah hukum homosexsual dan lesbianisme dalam Islam?
a) Haram
b) Mubah
c) Haram, tapi kalau kondisi darurat dibolehkan
d) Mayoritas ulama berpendapat haram, tapi sebagian berpendapat boleh
e) Islam tidak mengatur soal itu

Kira-kira Anda akan menjawab apa?

Sejak zaman rasulullah sampai masa imam madzhab dalam tradisi Sunni (Hanafi, Hambali, Syafii, Maliki), bahkan sampai zaman ulama kontemporer seperti Yusuf Qorodawi, jawaban atas pertanyaan itu jelas dan tegas. HARAM.

Bahkan kalau mau dilacak pada masa awal Islam, khalifah Abu Bakar pernah -setelah berkonsultasi dengan Ali dan sahabat yang lain- menjatuhkan hukuman bakar terhadap dua pemuda yang melakukan praktik homoseksual.

Tapi hukuman bakar itu lalu diganti oleh hukuman dijatuhkan dari tempat tinggi lalu dirajam, karena Ibnu Abbas, sahabat yang juga ahli tafsir terkemuka, tidak membolehkan membakar manusia.

Lha, tapi di abad 21 ini, tiba-tiba kok ada yang membolehkan homoseksualitas dan lesbianisme? What the hell is going on?

Simple. Kiamat mungkin sudah dekat hingga kebenaran yang tegas dan jelas pun dibuat kabur oleh segelintir orang.

***

Namun setidaknya kita masih bisa memilah mana yang benar. Irshad Manji yang seorang lesbian dan berdakwah tentang Islam itu (ia secara terbuka mengaku punya pacar perempuan, orang bule bernama Michelle Douglas, dan tinggal bersama), ternyata bukan seorang yang intelek berdasarkan kriteria tradisi keilmuan Islam.

Irshad Manji meyerukan untuk membuka lagi pintu ijtihad, tapi dia bahkan tidak menguasai bahasa Arab. Pendidikan formalnya adalah sejarah.

Well, for me that’s serious.

Sebab insyaallah agama Islam sangat menunjung tinggi tradisi keilmuan. Ibnu Abbas adalah sahabat yang didengar ucapannya bukan karena ia paman Ali, tapi karena ia adalah orang yang berilmu.

Sebagai orang yang terlatih dalam bahasa dan sastra Inggris, saya juga akan berkernyit kalau ada orang -yang bahkan tidak menguasai bahasa Inggris- menganggap T.S Eliot seorang penyair romantis.

I will certainly consider such opinion idiotic!

Saya kira, mungkin itulah kelemahan orang-orang seperti Irshad Manji: lack of competency in Islamic sciences.

Entah kenapa, sekarang makin banyak orang yang berani berpendapat macam-macam tentang ajaran Islam tapi tidak menganggap kompetensi dalam keilmuan Islam sebagai sesuatu yang krusial.

Apakah ia mengusai bahasa Arab, hadist, atsar, tafsir, fiqih, atau ushul fiqih?

Kompetensi keilmuan itu jadi isu yang makin serius ketika perbedaan ini tidak berada di wilayah periferal, melainkan sudah substansial.

Sangat banyak referensi dari hadist, dari pendapat ulama terdahulu, dari ulama modern, yang menegaskan keharaman homoseksual dan lebianisme, hingga -dalam pengamatan saya- mereka yang menerima homoseksualitas dan lesbianisme selalu kalah telak ketika memasuki wilayah perdebatan tradisi keilmuan Islam.

Yang sering terjadi adalah, status hombreng (dan lesbi) itu ditopang oleh premis-premis yang sangat umum seperti:

- Ukuran kemuliaan hamba di hadapan Allah adalah taqwanya, bukan jenis kelamin (biar hombreng, yang penting taqwa)
- Yang dilarang adalah aktivitas seksualnya, tapi kalau sekadar orientasi boleh

Terus terang saya agak geli ketika penerimaan terhadap kaum gay didasarkan pada distingsi tipis berupa orientasi.

Ya orang awam saja tahu kalau niat nyolong itu ga dosa. Baru dosa kalau udah nyolong.

Hanya masalahnya, kalau orientasi sesama jenis sudah muncul dan dianggap sah-sah saja, besar kemungkinan yang tadinya orientasi itu akan berubah menjadi action.

Dari perspektif ini, insyaallah lebih tepat ketika orientasi itu bukannya justru disahkan, melainkan dikoreksi, diobati, hingga si calon hombreng bersangkutan kembali ke fitrah sebagai heteroseksual.

***

Saya iseng-iseng menjelajahi blue nowhere untuk mencari info lebih banyak mengenai isu homoseksualitas dalam Islam ini, dan ternyata Inggris yang paling rame.

Di sana ada kelompok yang namanya saja indah, Imaan, tapi esensinya kenthir. Kelompok ini terdiri dari orang-orang Islam yang merasa tidak ada masalah dengan menjadi muslim dan hombreng sekaligus.

Atau dalam istilah kasarnya, Imaan adalah kelompok orang-orang yang trying to be good moslems and sucking cock at the same time.

Mereka biasanya perang dengan kelompok muslim anti-gay yang berkumpul di bawah yayasan StraightWay Fondation yang juga berlokasi di Inggris. Saya cukup bersimpati kepada orang-orang StraightWay Foundation, meski website mereka namanya juga lucu, yakni http://gaymuslim.wordpress.com

(Orang sering keliru menyangka kalau situs itu membela kaum hombreng)

Posisi StraigtWay Foundation jelas. Mereka menolak homoseksualitas dan lesbianisme, tapi mengakui kalau ada orang-orang yang memiliki orientasi sesama jenis.

Kepada orang-orang yang “sakit” itu, StraightWay Foundation berusaha mengajak mereka bergabung untuk sama-sama mengobati penyakit tersebut hingga hombreng-in-niat tidak berubah menjadi hombreng-in-action.

Perang antara Imaan dan Straightway Foundation cukup ramai, saling berbalas posting dan sebagainya, karena para aktivis Imaan juga berusaha menjustifikasi kehombrengan mereka dengan hadist dan ayat-ayat Al Quran.

Fenomena “perang ayat” bisa Anda baca dalam perang antar kedua kelompok itu, yang menunjukkan kalau kedua pihak sama-sama terlatih dalam perdebatan skripturalisme klasik Islam (canggih tenan, to).

Tapi insyaallah, menurut saya, kita tetap bisa membedakan mana hadist atau ayat Al Quran yang digunakan sebagai dasar untuk mencapai kebenaran, atau yang digunakan untuk menjustifikasi kecenderungan pribadi.

Btw, kembali ke buku “Beriman Tanpa Rasa Takut Ini”. How do we respond it? Well, since I’ve stated my stance on homosexuality and lesbianism, I think you wont find me avid reader of Irshad Manji’s works. I also do not endorse you to buy that book since I strongly opppose the author’s postion on homosexuality and lesbianism.

(Hehehe.. sori Luq, bukan maksud ane merugikan ente punya bisnis, hanya diriku tidak bisa menerima posisi pemikiran Irshad Manji)

Tapi kalau Anda punya uang lebih, dan sekadar ingin mengetahui seperti apa isi benak seorang muslim lesbian, well, tidak ada salahnya tetap membeli buku itu –meski I don’t recommend it either.***

Berikut beberapa link berguna:

- Situs Irshad Manji, ada cerita tentang acara launching buku di Indonesia juga dan kesan-kesan pribadinya. (http://www.irshadmanji.com)
- Profil Irshad Manji di situs wikipedia. (http://en.wikipedia.org/wiki/Irshad_Manji)
- Profil mendalam Irshad Manji yang ditulis wartawan Geraldine Sherman untuk majalah bulanan Toronto Life, Kanada. A very indepth profile. (http://www.geraldinesherman.com/Truth.html)
- Situs organisasi pro-gay muslim di Inggris, Imaan. (http://www.imaan.org.uk/)
- Situs organisasi lawannya Imaan, StraigthWay Foundation. (http://gaymuslim.wordpress.com)

- Link perdebatan tentang gay di Indonesia
- Makalah Musdah Mulia tentang gay di LSM Arus Pelangi pada 27 Maret 2008. (http://finance.groups.yahoo.com/group/mediacare/message/72594)
- Artikel bantahan atas makalah tersebut di majalah Hidayatullah. (http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6663&Itemid=60)

Doa minus pajak

04 April 2008, posted in personal, 5 Comments

Ada kejadian lucu yang melibatkan sebuah doa. Ceritanya dimulai waktu ada peresmian kantor pajak baru di daerah Jakarta Selatan. Aku ikut peresmian itu karena kebetulan narasumber yang lagi kukejar ada di sana.

Setelah mendengarkan sambutan, pemukulan gong dll (termasuk makan dulu hehe), akhirnya acara ditutup oleh doa. Seorang pria setengah baya lalu berdiri di depan hadirin. Memimpin doa dalam bahasa Indonesia.

Waktu dia mengajak hadirin untuk membaca surat Al Fatihah, aku pun ikut. Masa sih diminta baca Al Fatihah saja ga mau. Kan pahalanya juga buatku sendiri, pikirku.

Selesai Al Fatihah, barulah dia memanjatkan doa kepada Allah. Sedang hadirin mendengarkan dengan kepala tertunduk, kedua tangan membuka –ikut mengamini.

Aku juga ikut mengamini dengan kepala menunduk, meski sebagian besar wartawan yang meliput bersikap netral saja. Sebagian malah ada yang terus mondar-mandir, motret, dll.

“Ya Allah, tunjukkanlah yang benar itu benar,” kata pembaca doa (amin, jawabku pelan)
“Tunjukkanlah yang batil itu batil” (amin juga)
“Berilah kami rahmat (amin lagi)
“Kasihanilah kami (juga amin)

Selama hampir 5 menit aku terus menunduk dan mengamini, sebisa mungkin berusaha khusuk, karena insyaallah doa yang baik memang sebaiknya diamini.

Lalu di penghujung doa, laki-laki itu mengucapkan doa terakhirnya.

“Ya Allah, mudah-mudahan penerimaan pajak tahun ini sesuai target…”

Harakadah!!

Aku kaget mendengarnya. Secara instingtif aku ga mengamini doa yang ini. Ini doa nggapleki! Sangat bersifat internal buat aparatur pajak.

Padahal aku sudah berusaha khusuk mengamini. Eh malah ketemu doa yang ga relevan kayak begini.

Sialan.

Seorang wartawan yang duduk di belakangku kemudian terkekeh pelan mendengar doa ini.

***

Yah, aku tahu kalau itu memang acara peresmian kantor pajak. Sebagian besar hadirin adalah orang-orang pajak. Tapi menurutku doa yang spesifik meminta pemasukan pajak sesuai target adalah kebangeten. Apalagi diucapkan dalam sebuah doa resmi yang melibatkan banyak orang.

Ini kan kelewatan. Selain itu acara ini kan juga mengundang orang luar. Ada undangan VIP yang terdiri dari wajib pajak, kalangan professional, serta mantan-mantan pejabat yang kini sudah pensiun. Masak semuanya dilibatkan untuk mendoakan agar penerimaan pajak sesuai target?

Kupikir doa internal seperti itu tidak pantas untuk sebuah acara yang bersifat semi-terbuka. Selain itu dari segi derajat, duh… kok degradasinya jauh banget…

Berdoa agar Allah menunjukkan yang benar itu benar, dan yang batil itu batil, jelas doa yang high-level. Kelas berat. Kalau doa itu dikabulkan Allah, insyaallah bisa menjadi tiket selamat dunia-akhirat.

Masa kemudian turun level ke doa yang bersifat result-oriented? Sempit sekali…

Tapi aku tetap ikut berdoa dan ikut mengamini (meski untuk doa pajak itu diriku cenderung abstain).

Hehehe… , doa pajak itu memang lucu…

Two days in Singapore

22 February 2008, posted in personal, 0 Comments »

Mengunjungi Singapura rasanya seperti masuk komplek orang kaya. Semua serba rapi, teratur, mengkilap. Perfect lah.

Tapi entah mengapa saya merasa masih ada cerita lain di balik kesan makmur negara ini. Mungkin cerita satu-dua orang, yang tidak begitu beruntung, hingga masih hidup miskin?

Is that possible, menemukan orang miskin di Singapura?

Well, entahlah.

Apalagi banyak pejabat Singapura dengan yakin mengemukakan fakta itu.

“You go down New York, Broadway. You will see the beggars, people of the streets…Where are the beggars in Singapore? Show me.”

–Lee Kuan Yew

“There are no homeless, destitute or starving people [in Singapore]…Poverty has been eradicated.”

-Kishore Mahbubani, Singapore’s permanent representative to the UN

Ya, ya, ya… anything you say, guys.

Saya lalu antri pemeriksaan imigrasi di bandara. Sempat terbayang satu skenario. Kebetulan foto saya di paspor berjenggot tebal, khas postur Islam militan (padahal cuma karena ga cukur 2 minggu).

Mungkin petugas imigrasi Changi yang galak itu akan mengajak ke ruang pemeriksaan sebentar? Random check?

“Could u come with us for minutes, Sir? Just a random check.” Smiling.
“Random check my ass. But sure, why not.” Smiling too.

Hehehe… untunglah tidak begitu.

Namun imajinasi itu cukup beralasan. Pasalnya, Singapura tidak bisa dibilang ramah terhadap ekspresi keberagamaan (especially Islam). Mereka melarang jilbab di sekolah di instansi, dan mendepak siswi yang membangkang.

(Tahun 2002, sempat terjadi ketegangan SARA di Singapura setelah dua siswi SD dikeluarkan karena memakai jilbab)

Anyway, petugas imigrasi itu hanya bertanya nomor penerbangan pesawat. Nothing more. Lalu bluk! Paspor langsung distempel. Saya pun officially have the right to enter Singapore. Dan tujuan pertama, apalagi kalau bukan toilet?

Lalu di toilet, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada seorang petugas cleaning service yang berdiri tegak di dekat pintu, posisi siap sempurna, ala tentara. Nothing’s weird about him. Biasa saja. Di dekatnya ada ember dan kain pel. Mata kami beradu sesaat.

Suddenly I realize… He’s very old.. too old… 60 tahun? 70 tahun, maybe? Rambutnya sudah putih, tipis, agak botak. Kulitnya keriput. Ia lalu menundukkan pandangan. Tidak berani menatap lama-lama.

Entah kenapa I feel uneasy… maybe, just maybe…

Pandangan matanya mengingatkan saya pada mata mbok-mbok tua yang masih berjualan di pasar. Mata yang menyimpan cerita hidup penuh kerja keras, namun pada saat bersamaan, kekurangan.

“Ah, sudahlah. That’s only my imagination. I know nothing about the old man.”

Saya hanya melirik kakek tua itu –yang masih berdiri tegak dekat ember– ketika keluar toilet. I think nothing of him. Rombongan kami kemudian keluar dari kompleks bandara Changi, menanti bus yang akan menjemput sambil merokok dulu

(It’s okay merokok di luar gedung, dekat dustbin)

Tidak lama bus datang. Saya pun naik, duduk dekat jendela. Perlahan bus meninggalkan bandara, menyusuri jalan-jalan yang tertata rapi. Lalu, di dekat gerbang keluar, secara tidak sengaja saya menoleh dan pemandangan itu tersaji begitu nyata. Punch me in the head.

Seorang pria keturunan India, agak tua, berambut putih, duduk di atas beton dekat taman. Pakaiannya lusuh, coklat kehitaman. Dua tas plastik ada di sampingnya. Di dekat kakinya ada lagi plastik besar.

Tangannya memegangi plastik itu, seakan barang yang sangat berharga. Pandangan matanya menatap jauh ke depan, seperti menerawang.

Betapa menyedihkan…

Di kompleks orang-orang kaya ini, ternyata masih ada orang yang mencengkeram plastik sampah begitu erat… don’t let them go. Apa yang ia pikirkan?

Mungkinkah ia akan mendatangi Lee Kuan Yew dan berkata, “I’m here!”

Well, no. Ia mungkin tidak pernah tahu Lee Kuan Yew pernah berucap sesombong itu. Tidak pernah tahu bahwa Singapura secara resmi menyatakan bahwa “poverty has been eradicated”.

He just hold his plastic bag tightly. dont let them go.

(Lalu seorang kawan memberitahu bahwa homeless seperti itu biasanya akan diciduk karena merusak pemandangan)

Penjelasan lebih serius tentang fenomena kemiskinan di Singapura akhirnya saya dapatkan setelah mengunjungi situs SDP (Singapore Democratic Party), partai oposisi di Singapura.

Beginilah kata mereka:

The reason why the poor in Singapore are not more visible is that the Ministry of Community Development and Sports conduct frequent raids through its Destitute Persons Service, looking for and picking up vagrants. If Singapore seems to have less destitute, it is not because the numbers are not present. The real reason is that the PAP Government is just much more efficient in clearing the streets of homeless people.

SDP (Singapore Democratic Party)

Lalu di beberapa blog warga Singapura, saya mendapat penjelasan bahwa ternyata beggars (pengemis) memang tidak ada Singapura, karena pemerintah Singapura menyukai istilah yang lebih “netral”.

Istilah yang populer adalah sleepers (orang yang tidur di jalan).

Ironis, bukan? Well, tapi begitulah Singapura.

(Negeri yang dalam istilah Goenawan Mohamad adalah seperti rumah sakit, di mana warga adalah pasien. :mrgreen: )

Makanya kaum muda Singapura sendiri juga bermain-main dengan istilah itu. Di beberapa forum online, ada yang mengusulkan agar istilah “sleepers” diganti menjadi “urbanly challenged citizen” (warga yang tertantang secara urban)

Ha..ha..ha…

Saya mau tidak mau jadi tertawa mendengar istilah “urbanly challenged citizen”. Begitu canggih, begitu ironis, sekaligus begitu mengaburkan realitas yang sebenarnya.

They’re beggars, homelesss.. whatever you might call them, the fact remains!

Singapura memang bukan Indonesia yang memiliki lebih banyak pengemis dan lebih akut dalam masalah kemiskinan. Tapi mengatakan tidak ada pengemis, lalu mempopulerkan istilah “sleepers”, adalah sebuah penghinaan terhadap eksistensi para wong cilik itu. Penghinaan terhadap eksistensi manusia.

Ah Pak Lee, Pak Lee.. you damn sure have a big mouth.*

Berikut beberapa link:

- Blog Lucky Tan, blogger Singapura yang menulis soal “sleepers”. Clik here

- Situs SDP yang menulis soal kemiskinan di Singapura. Clik here.

- Artikel di CSMonitor, menceritakan ketegangan SARA setelah dua siswi SD dikeluarkan karena bersikeras memakai jilbab pada 2002. Clik here.

- Saya ke Singapura dalam rangka meliput Singapore Airshow 2008. Here’s my picture, standing in front of US Jet Fighters.

Image Hosted by ImageShack.us

Bertemu An-Naim

14 December 2007, posted in news, 2 Comments

Image Hosted by ImageShack.us

Saya lupa memposting wawancara menarik ini. Akhir Juli lalu, saya (and my editor,) menjumpai Abdullah an-Naim untuk wawancara khusus.

Abdullah an-Naim adalah pemikir Islam terkenal asal Sudan, sekaligus kontroversial. Pandangannya yang kerap mendapat kritik adalah syariat sebagai sesuatu yang sakral sekaligus produk budaya manusia.

Naim datang ke Indonesia karena diundang oleh penerbit Mizan. Buku terbarunya berjudul “Islam dan Negara Sekular: Menegosiasikan Masa Depan Syariah” diterbitkan Mizan akhir Juli lalu.

Edisi bahasa Indonesia ini justru mendahului versi bahasa Inggris. Versi bahasa Inggris baru akan diterbitkan pada tahun 2008, rencananya, oleh Harvard University Press.

Naim menginap di hotel Kristal, Jakarta Selatan. Wawancara akan berlangsung di kamar hotelnya. Kami sampai di hotel sekitar jam 7 dan segera menuju kamarnya. Naim menyambut hangat. Rupanya ia sudah menunggu. Saya perhatikan sepertinya ia baru selesai sholat maghrib. Soalnya saya lihat sajadah tersampir di lemari dekat TV.

Awalnya ngobrol ngalor-ngidul dulu. Perbincangan dilakukan dalam bahasa Inggris. Dia tanya kami ingin minum apa. Kopi aja deh. Ups, ternyata ga ada air panas. “Sori, saya masak air dulu,” kata Naim (hehehe, in english tentu)

My editor awalnya sudah memberikan background tentang pemikiran Naim. Ia bilang bahwa Naim memang agak trauma dengan negara. Ia menduga itu ada kaitannya dengan fakta bahwa gurunya, Mahmoud Ali, divonis mati oleh negara karena dianggap menyimpang.

(Well, that makes sense. Plato juga menolak demokrasi karena justru demokrasi –alias suara terbanyak— membuat gurunya, Socrates, harus meminum racun)

Naim sendiri memang tegas menolak konsep negara Islam. Dia bilang ide negara Islam adalah sesuatu yang secara konseptual tidak valid.

Selama wawancara, my editor (background pesantren-nya kuat, alumnus jurusan syariah UIN) yang lebih banyak mendominasi pertanyaan. Dia terlihat jelas bisa mengimbangi pemikiran Naim. Wawancara pun mengalir, seperti diskusi, bahkan debat.

Saya ingat ketika kami sampai pada soal negara Islam, di mana negara memiliki hak untuk memaksa penduduknya sholat. Jawaban Naim atas konsep itu sangat tegas.

Dia bilang:

..patuh pada syariat adalah kewajiban muslim. Jadi secara pribadi saya tidak punya anggapan bahwa syariat itu tidak mengenakkan. Tidak. Karena itulah saya menyebutkan menegosiasikan masa depan syariat. Saya percaya pada masa depan syariat. Tapi masa depan itu berada di luar negara. Membiarkan negara mengambil alih syariat akan merusak masa depan syariat. Karena itu akan membuat orang jadi munafik. Nifaq. Karena saya jadi patuh bukan karena ketakutan saya kepada Allah, melainkan pada negara. Di Sudan mereka memaksa orang untuk menutup toko dan pergi ke masjid untuk sholat. Dan ada petugas yang membawa cambuk. Kalau Anda pergi ke masjid untuk sholat, Anda sholat kepada negara, bukan kepada Allah. Hanya kalau Anda memilih pergi ke masjid karena pilihan Anda sendiri, Anda beribadah kepada Allah.

My editor langsung menyambar lagi. “Bagaimana dengan pendapat bahwa pemaksaan adalah langkah awal, training, sebelum sampai pada tahap beribadah kepada Allah? tanyanya.

Tapi itu berarti menegasikan prinsip niat. Anda tidak bisa punya agama tanpa niat. Niat untuk patuh harus datang secara sadar. Dalam syariat, perbuatan itu tidak valid sepanjang niat itu kosong. Jadi ada laki-laki tua berusia 50 tahun, dan dia membutuhkan negara untuk menyuruhkan ke masjid, dan kita mengatakan sholatnya valid? Saya katakan sholat itu tidak valid. Itu tidak akan pergi ke manapun. Mengapa negara harus menjadi posisi penyuruh? Apakah mereka menjadi muslim karena pilihan sendiri atau bukan? Kalau mereka menjadi muslim karena kesadaran, mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri. Tapi Anda tidak bisa bicara tentang warga negara yang dipaksa untuk melakukan sesuatu yang mereka sendiri tidak suka rela.

Saya agak tercenung mendengar jawaban Naim yang cerdas itu. Maklum, saya tidak pernah melihat dari perspektif itu. Belum pernah terpikir oleh saya bahwa ibadah itu tidak valid bila niat itu kosong.

Pembicaraan lalu mengalir lebih intens. Naim sebenarnya tidak menolak syariat. Hanya, dia menolak ketika syariat dijadikan hukum negara karena syariat semata. Dia bisa menerima kalau dasarnya adalah ketertiban publik. Berikut petikan wawancara kami seputar itu:

Jadi menurut Anda, kalau sebuah negara hendak menerapkan syariat, prinsipnya harus aspek sosial ekonomi, bukan karena syariat itu sendiri?
Ya. Dan bahwa kerangka negara adalah konstitusi, hak-hak fundamental, dan kesamaan warga negara. Jadi hukum apa pun yang melanggar ketiga prinsip itu tidak boleh disahkan karena inkonstitusional.

Dengan prinsip itu, memang bisa mengakomodir prinsip-prinsip syariat yang bersifat publik seperti soal judi, pelacuran. Tapi bagaimana dengan hukum syariat yang lain seperti potong tangan, zina? Apakah karena kita tinggal di negara sekular, kita harus menerima fakta bahwa tetap ada hukum yang sekular?
Semua kehidupan kita itu sekular. Manusia itu sekular. Tidak ada yang sakral dari manusia. Apa artinya sekular? Sekular berarti di dunia ini, saat ini. Sekular bukanlah suatu ideologi. Kehidupan ini adalah sekular. Sekular sejak akar, tapi dibimbing oleh petunjuk-petunjuk moral dari rasul. Jadi Anda bisa bilang kalau kehidupan manusia itu adalah fusi antara keberadaanya saat ini dan petunjuk moral ideal yang berasal dari Al Quran. Point saya, oke, kalau Anda ingin menerapkan hukum potong tangan, rajam bagi pezina, bawalah itu untuk diperdebatkan. Kalau seseorang mengajukan keberatan konstitusional atas usul tersebut, biarlah konstitusi yang memutuskan. Kalau Anda membiarkan sebuah hukum ditegakkan hanya karena Anda yakin itu adalah syariat, tanpa mempertimbangkan konstitusi, berarti Anda tinggal di sebuah negara yang tanpa konstitusi seperti Arab Saudi. Tapi karena Anda tinggal di sebuah negara yang memiliki konstitusi, maka biarlah konstitusi yang memutuskan.

Bisakah Anda memberikan contoh konkret syariat yang berhasil menjadi undang-undang seperti pemikiran Anda?
Misalnya pembatasan tentang judi, pelacuran. Ada banyak hukum syariat di mana ketika orang memperdebatkannya, mereka melihatnya dari segi kebijakan sosial. Mereka memberi penjelasan dari segi kebijakan sosial mengapa aturan ini perlu.
Anda tahu khuluk? Khuluk adalah prinsip syariat di mana wanita bisa bercerai dengan mengembalikan harta pemberian suaminya. Khuluk adalah prinsip syariat sejak pertama kali. Ini ada dasarnya dalam Quran dan rasul sendiri juga mengatakan demikian. Tapi khuluk tidak menjadi bagian dari hukum keluarga Mesir. Lalu tahun 2000 pemerintah Mesir mensahkan khuluk sebagai bagian dari hukum keluarga mereka. Saya menyebutkan contoh ini di buku saya. Jadi, fakta bahwa khuluk adalah syariat ternyata tidak cukup bagi wanita Mesir untuk mendapatkan keuntungan dari prinsip ini. Nah dalam debat di parlemen Mesir tentang pensahan khuluk, ada perdebatan tentang aspek kebijakan publik tentang misalnya: ada yang berpendapat bahwa khuluk perlu disahkan sebagai hukum karena ada ribuan wanita Mesir yang menunggu keputusan kasus cerai mereka di pengadilan, bagaimana ada yang sampai menunggu selama 15 tahun untuk bisa bercerai, bagaimana tumpukan berkas semakin menumpuk. Jadi mereka menyebutkan tentang adanya masalah sosial. Padahal mereka semua tahu bahwa khuluk sejak awal adalah bagian dari syariat. Jadi ini adalah contoh di mana debat bisa terjadi ketika syariat diajukan untuk jadi hukum dengan menimbang aspek positif dari segi kebijakan, dan orang dengan nalarnya bisa menyetujui bahwa ini baik. Tapi masalah tetap muncul, karena ketika khuluk dijadikan hukum positif, khuluk dijadikan sebagai sebuah hukum berdasarkan prinsip-prinsip syariat. Jadi sekarang pemerintah Mesir tidak bisa mengubahnya karena mereka menyebutnya syariat ketika mensahkan khuluk.

Wawancara akhirnya selesai sekitar jam 9 malam –berarti hampir 2 jam. Gatra akhirnya menerbitkan wawancara itu dua halaman dengan judul “Negara Sekuler Yes, Masyarakat Sekuler No”

Saya pikir itu judul yang bagus, karena menunjukkan posisi pemikiran Naim yang mendua. Ia menolak konsep negara Islam, tapi tidak menginginkan terciptanya masyarakat liberal.

Dalam perjalanan pulang (naik taksi), saya sempat kembali tercenung oleh pertanyaan Naim yang tajam itu. “Anda menjadi muslim karena pilihan sendiri atau bukan?” Ukhh, rasanya seperti dipukul telak.

Sudahlah. Perjalanan spiritual saya memang masih menyedihkan.*

Berikut beberapa link

- Wawancara Naim di Gatra (http://www.gatra.com/2007-08-10/artikel.php?id=106789)
- Profil An-Naim di Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Abdullahi_Ahmed_An-Na’im)
- Situs pribadi An-Naim (lengkap dengan artikel2 yang bisa didownload) (http://people.law.emory.edu/~aannaim/)

Birdman released

28 November 2007, posted in books, art, literature, 0 Comments »

Judul: Birdman
Pengarang: Mo Hayder
Penerbit: Dastan Books, September 2007
Penerjemah: me
Editor: Marvel Neydi
——————————

Birdman akhirnya terbit juga. Penerbit Dastan Books juga mengirimkan satu eksemplar ke kantorku. I must admit they’re professionals. They did keep their promise.

Novel karya Mo Hayder itu adalah debut pertamaku sebagai penerjemah buku. It was a nice job and quite well-paid. Tapi aku tidak terlalu bangga karena I didnt make it on time. Ada sejumlah kendala (teknis) yang membuat aku terlambat menyerahkan naskah. Luckily they didnt mind it.

Mengenai kualitas terjemahannya, well, surely I can’t claim I’m the best. Masih banyak penerjemah hebat di luar sana. Mungkin masih ada beberapa kata yang miss. But I’m not that bad either. Insyaallah diriku cukup percaya diri untuk mengatakan terjemahan itu masuk kategori “good enough” (kalau bukan good, hehehe.. haiyah!)

Novel itu sendiri berkisah tentang seorang pembunuh psikopat yang dijuluki Birdman oleh polisi. Jagoannya adalah detektif Jack Caffrey dari kepolisian Metropolitan, London.

Lazimnya novel thriller, maka ya ada pembunuhan, investigasi tekun dari sang jagoan, latar belakang si psikopat, sampai kisah cinta. In short, you’ll find common things of what a thriller novel should provide.

Yang membedakan barangkali adalah “perhatian” terhadap anatomi manusia yang cukup detil di novel ini (yang aku sempat mengalami kesulitan menerjemahkannya). But overall, istilah-istilah yang dipakai is quite understandable untuk pembaca terpelajar.

Is it a good novel? Well, you’d better read and decide it yourself. Yang jelas, novel ini –pertama kali terbit tahun 1999– got wide acclaim. Pengarangnya, Mo Hayder, langsung melejit di barisan pengarang thriller. Banyak media Inggris yang mewawancarai dan membuat profilnya.

Tapi kalau Anda tipe yang tidak suka membaca pembunuhan, apalagi yang ditampilkan secara deskriptif, perhaps this is not a novel for u. Lain kalau Anda adalah penggemar kisah-kisah psikopatik ala Hannibal Lecter, then this novel will be just fine.*

Pengajian Ridho Allah

09 November 2007, posted in news, 6 Comments

Selasa kemarin (6/11) saya bertandang ke sekretariat Yayasan Ridho Allah di Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

It was an assignment. Gatra lagi meliput soal maraknya aliran sesat gara-gara fenomena Al Qiyadah. And somebody tipped off my editor kalau pengajian Ridho Allah layak dicek.

“Pengajian Ridho Allah melakukan pengobatan dengan memanggil ruh” -begitu asumsi yang tertulis di penugasan.

So I went there, had a deep interview with its leader (a very cooperative man), dan menemukan fakta bahwa meski insyaallah tidak sesat, pengajian Ridho Allah memang, well, differente

Ketua pengajian ini, Antono Basuki (52 th) has a deep contact with the afterlife world. In other words, alam gaib.

Antono banyak berhubungan dengan alam jin dan ruh. Ia misalnya bilang kalau pesulap terkenal David Copperfield menggunakan jin dalam atraksi sulapnya.

How does he know? Simple and first-hand: he talked with the jinn involved.

Unsur alam gaib inilah yang membuat pengajian Ridho Allah jadi berbeda. Tapi di luar itu insyaallah tidak ada hal yang kontroversial. Dari segi aqidah mereka tetap mainstream. Tetap sholat lima waktu, dan tidak menganggap aliran sendiri paling benar.

Gatra menurunkan laporan saya tentang pengajian ini di edisi 14 November 2007. Tapi sayang, hikss… cuma 2000-an karakter! Dibuat gaya straight news lagi!!

Padahal aku nulis laporannya sampai 6000 karakter lebih. Wawancaranya pun dari jam 4 sampai jam 7 malam!!! Huaaaaaa… hikss..hikss…hikss :cry:

Ehmm.. ga nangis, ding. Bercanda. Masalahnya ada pada keterbatasan space, said my editor. He also apologized me for cutting the article so short. He is a professional.

Meski demikian, saya merasa sayang kalau liputan pengajian Ridho Allah yang menurut saya cukup mendalam itu tidak dibaca.

So, I decided to post it here, in my blog, the original version of the my Ridho Allah reportage.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi gambaran lebih tentang karakteristik pengajian Ridho Allah.

Here it is:

“Saya hanya mengajarkan ikhlas,” begitu kata Antono Basuki, 52 tahun, ketika ditemui di sekretariat Yayasan Ridho Allah, Jl. Guru Serih Raya No. 7 Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Antono sehari-hari bekerja sebagai kontraktor di PT. Nindya Karya (Persero). Ia alumnus jurusan teknik sipil Universitas Gadjah Mada (UGM). Tapi selain menjadi kontraktor, ia menjadi ketua dari 200-an orang yang bernaung di bawah Yayasan Ridho Allah.

Antono mendirikan yayasan ini pada 9 November 2005. Tujuannya, karena dia ingin agar ilmunya bisa bermanfaat. “Sebab meski orang sudah meninggal, ilmu yang bermanfaat itu tetap ada pahalanya. Saya kan ingin masuk surga,” katanya.

Kegiatan pengajian rutin dua kali seminggu yang diadakan Antono ini memang pernah menimbulkan kecurigaan warga, kalau-kalau ia mengajarkan ajaran sesat. Antono sendiri juga mengakui hal itu. “Sempat ada pro-kontra. Dan itu bagus, sebab kita harus waspada. Saya juga mengajarkan agar waspada. Cuma jangan berhenti sampai waspada saja, harus dilanjutkan mengecek apakah benar atau salah,” jelasnya.

Sebenarnya secara ritual tidak ada perbedaan antara anggota jamaah Ridlo Allah dengan umat Islam mainstream. Mereka masih sholat lima waktu. Juga tidak memisahkan diri secara eksklusif dari masyarakat. Waktu Gatra berkunjung, menjelang maghrib tiba-tiba ada warga yang muncul, minta tolong karena ada kasus kesurupan. Antono pun bergegas ke rumah orang tersebut dan sholat magrib di musholla dekat rumah pasiennya.

Selain itu dalam acara pengajian rutin, yang diajarkan Antono adalah bagaimana agar sholat bisa khusuk. Lebih bisa berkonsentrasi, menyadari kalau selalu berada dalam pengawasan Allah. Sedang bacaan sholat terserah kebiasaan orang masing-masing. “Yah sebenarnya kami lebih mirip kelompok tasawuf-lah. Tapi saya tidak terang-terangan menyebut tasawuf, khawatir nanti disangka sudah tidak butuh dunia. Saya kan juga masih berdoa minta rezeki,” katanya.

Antono juga tidak mengajarkan wirid-wirid khusus kepada jamaahnya. “Saya memang tidak mengajarkan wirid. Saya bahkan melarang kalau ada yang baca wirid-wirid tertentu karena pingin kaya dan sebagainya,” katanya.

Hanya, kontroversi muncul karena Antono bersentuhan dengan dunia ghaib, yakni alam jin dan ruh. Cukup banyak orang yang datang ke Antono untuk berobat. Ada yang sembuh, ada yang tidak. Yang unik, Antono berkata kalau dia bisa berkomunikasi dengan penyakit tersebut.

Antono menjelaskan bahwa penyakit pada dasarnya juga makhluk Allah. Sama seperti batu juga makhluk Allah. Ketika ia berdialog dengan penyakit, biasanya si penyakit berkata bahwa ia datang karena orang bersangkutan ibadahnya kurang. “Saya lalu pesankan agar orang itu ibadahnya dipergiat,” jelasnya.

Yang mudah, kata Antono, adalah kalau penyakit itu disebabkan oleh jin yang bersarang di tubuh manusia. Kalau kasusnya begitu, biasanya ia tinggal minta agar jin yang mengganggu itu pergi.

Tapi Antono juga mengakui kalau tidak semua penyakit bisa disembuhkan. Sebabnya, bisa jadi penyakit itu adalah takdir orang bersangkutan untuk menjumpai maut. “Jadi tidak semua sembuh. Ada yang memang takdirnya meninggal dengan penyakit. Kalau kasusnya begitu, hati saya biasanya mak tek, ya sudah, tidak bisa berbuat apa-apa lagi,” jelasnya.

Persentuhan dengan alam jin juga sampai ke kisah legenda Nyi Roro Kidul. Menurut Antono, Nyi Roro Kidul sebenarnya adalah jin kafir. Tapi oleh Antono, jin kafir itu kemudian diislamkan dan dikirimkan ke ruh Sunan Kalijaga untuk diawasi. Detil kisah Nyi Roro Kidul itu terekam dalam DVD berjudul Alam Ghaib Gempar, Menuju Indonesia Bebas Jin Kafir keluaran yayasan Ridho Allah.

Selain soal Nyi Roro Kidul, juga ada soal pesulap terkenal David Copperfield. Menurut Antono, David Copperfield ternyata memakai jin dalam aksi-aksi sulapnya. Itu dia ketahui setelah berkomunikasi dengan jin yang terlibat dalam atraksinya. “Sebab tidak mungkin, tubuh dipotong kok tidak ada darahnya,” katanya.

Meski demikian, Antono mengatakan bahwa dia tidak memiliki anak buah jin. Bahkan pernah ada jin yang pernah ingin ikut dengannya, disuruh pergi. “Jin itu sering tidak bisa dipercaya. Kalau ada orang yang mengaku bisa memerintah jin, sering justru dia yang diperbudak oleh jin,” tegasnya.

Selain soal jin, yang juga mengundang kontroversi adalah pengakuan Antono bahwa dia bisa berkomunikasi dengan ruh. Antono mendemonstrasikan kemampuan ini secara visual lewat DVD berjudul Siksa Kubur: Kesaksian dari Arwah. DVD itu diedarkan kepada jamaah, Gatra juga diberi. Bahkan Antono bersikap proaktif dengan mengirimkan DVD tersebut ke beberapa nama berikut: Presiden dan Wakil Presiden RI, mantan presiden Soeharto, Gus Dur (Abdurrahman Wahid), Hamengkubuwono X, Kelompok Kyai Langitan, serta sebuah stasiun televisi swasta.

DVD berjudul Siksa Kubur 1 misalnya, berisi kesaksian ruh seorang yang semasa hidupnya menjadi koruptor, ruh seorang mafia peradilan, serta ruh seorang wakil rakyat yang tidak amanah. Lalu di Siksa Kubur 3, ada ruh anggota polisi yang suka menerima uang haram, ruh orang yang melakukan bunuh diri, serta ruh seorang dai yang menjual ayat. Berbagai ruh tersebut bercerita –lewat mediator jasad fisik seorang anggota jamaah— tentang penderitaan yang mereka alami di alam kubur.

Tapi Antono menolak kalau dikatakan dia bisa memanggil ruh. Yang ia lakukan adalah memohon kepada Allah. “Jadi saya minta kepada Allah agar ruh orang yang korupsi didatangkan,” jelasnya.

Menurut Antono, tujuan memohon kepada Allah itu adalah agar mereka yang masih hidup bisa memetik pelajaran dari para ruh. “Dan saya tidak tiap minggu memohon agar ruh didatangkan. Kalau itu dagelan. Hanya untuk direkam di DVD agar kita bisa mengambil pelajaran,” jelasnya.

Persentuhan dengan alam ruh ini ternyata juga sampai ke level para wali dan nabi. Ketika Gatra bertanya apakah guru Antono juga termasuk para ruh, dia mengatakan bahwa ruh walisongo adalah gurunya. Lalu ruh Rabiah al-Adawiyah, wanita sufi dari kota Basrah. Lalu ruh Nabi Khidir as.

Gatra sempat bertanya agak detil soal ruh Nabi Khidir as ini. Antono lalu menjelaskan bahwa sebenarnya dia tidak meminta untuk bertemu dengan ruh Nabi Khidir. Namun ruh Nabi Khidir as yang mendatanginya. “Nabi Khidir bilang kalau beliau datang ke saya itu karena diperintah. Lalu beliau mengajarkan soal ikhlas,” katanya.

Kata Antono, pertemuan dengan ruh Nabi Khidir as terjadi sampai lebih dari sepuluh kali. Selain itu yang juga pernah datang adalah ruh Bung Karno, presiden pertama RI. “Bung Karno biasanya ngomong soal kenegaraan,” jelasnya.

Antono juga menyadari bahwa pernyataan-pernyataannya bisa mengundang kontroversi. Karena itu yayasan yang dia pimpin terbuka untuk berdialog, atau bahkan dievaluasi oleh pihak lain. “Saya juga mengirim surat ke Lemhanas dan BIN (Badan Intelijen Nasional). Saya terbuka saja. Saya justru ingin dikoreksi kalau salah,” katanya.

Selain mengirimkan rekaman DVD ke berbagai pihak, keterbukaan itu juga ditunjukkan dengan membuat website khusus beralamat di http://www.ridhoallah.com. Di forum tanya jawab website tersebut, soal jin, berbicara dengan benda, bertemu dengan ruh Nabi Khidir dan bertemu dengan ruh walisongo mendapat banyak reaksi. Ada yang menuduh telah bidah, musyrik, atau sekadar iseng-iseng menghina. Tapi ada juga yang mengomentari dengan prasangka baik.

Dalam tulisan-tulisannya, Antono tetap tenang saja menjawab berbagai respon itu. “Alam ghaib itu memang soal keyakinan. Tapi saya juga tidak mengklaim paling benar. Justru kalau sudah merasa paling benar, dia sudah salah,” katanya.

Bahkan mengenai maraknya aliran sesat akhir-akhir ini, Antono mengatakan kalau ia menduga bahwa itu ulah para jin dan setan yang sudah menyesatkan. Untuk mengantisipasi hal itu, kata Antono, kita harus iklhas. “Sebab orang iklhas itu tidak bisa digoda setan,” katanya.

–selesai—

PS: Copyright tulisan ini ada di majalah Gatra.

I am married

02 August 2007, posted in personal, 6 Comments

I’m already married now. Tepatnya tanggal 9 Juni 2007 lalu di Malang, Jawa Timur. Istriku adalah Ajeng Ritzki Pitakasari (now Siregar), once a very good friend of mine –dan masih sampai sekarang.

Pernikahan dilangsungkan sederhana. Gaya kampung. Start jam 8 dan selesai jam 12.30. Jam 1 siang aku bahkan sudah mencopot baju pengantinku dan pakai kemeja putih biasa. Maklum, tamu tidak terlalu banyak. Di buku tamu kulihat cuma sekitar 80 nama.

But that’s fine with me. Yang penting sah dan halal. We can afford to marry was very-very alhamdulillah. Sebab dana pernikahan ini berasal dari kantong pribadi kami berdua –yang pas-pasan. Bahkan untuk souvenir kami dibantu oleh Mrs. Dhini, kawan baik istriku.

Sayang ibuku tidak bisa melihat aku menikah. Tapi aku masih alhamdulillah karena ibu sempat bertemu dan kenal dengan istriku. Beliau juga sudah merestui. Waktu keluarga kami melamar secara resmi (Oktober 2006), ibuku juga datang.

Sebelum pernikahan, keluarga kami memang melamar terlebih dulu. Seluruh keluarga besarku datang. Full-armed. Termasuk bibiku yang dari Lampung, dia juga menyempatkan ke Malang bersama suami dan anak-anaknya.

So, I’m now entering a new phase of my life. Kini sudah sebulan lebih diriku berstatus married. Ada beberapa hal penting yang mulai kupahami tentang pernikahan. Terutama esensi akad nikah yang ternyata sangat berat itu. “Pernikahan adalah sesuatu yang sakral,” begitu kata ibuku. And she was absolutely right.

Tapi itu nanti. I don’t wanna discuss anything right now. Just one thing is sure. Pernikahan itu adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat. Dan aku bersyukur pada Allah aku sampai di titik ini. *

Below are some pictures:

Image Hosted by ImageShack.us
(aku, ibuku, dan bibiku yang dari lampung pas acara lamaran, Oktober 2006)

Image Hosted by ImageShack.us
(Pamanku, berdiri, menjelaskan kepada keluarga besar di Malang bahwa tujuan kedatangan kami adalah untuk melamar, Oktober 2006)

Image Hosted by ImageShack.us
(Akad nikah di Malang, Juni 2007)

Image Hosted by ImageShack.us
(Penandatanganan akta nikah oleh saksi)

Ibu meninggal

03 April 2007, posted in personal, 7 Comments

Ibu meninggal. Di ranjang kamar rumah kami, jasadnya terbaring kaku. Mulutnya setengah membuka. Matanya terpejam.

Aneh… aku tidak menangis. Tidak saat itu. Tidak pada momen sesaat setelah dia meninggal. Hatiku diam. Aku justru mendekat. Memegang jarinya, mencium keningnya. Mengucap selamat tinggal.

Aku keluar rumah. Di luar gelap, masih waktu subuh. Orang-orang yang berjamaah subuh di musholla sepertinya belum bubar. Aku berdiri di jalan dekat rumah tanpa bicara apa pun.  Aku cuma ingin sendiri.

Kuambil sebatang rokok dari saku jaketku. Lalu aku mulai merokok…

***

Pagi tiba. Sekitar pukul 8 mbok tua tukang memandikan jenazah datang. Jasad ibu dipindahkan dari ranjang ke ruang belakang, dekat kamar mandi.  Jasad ibu ditaruh di atas dipan kayu.  Batang-batang pisang menjadi bantalnya.

Kain jarik dipasang untuk menutupi prosesi pemandian jenazah itu. Setelah selesai, aku, abang, adikku dipanggil. Kami, ketiga anaknya, diminta untuk mengangkat jasad ibu dari ruang belakang –memindahkannya ke ruang tamu.

Keluarga dan kerabat mengelilingi, menyaksikan dari dekat, saat kami bertiga bersiap di dekat jasad ibu. Abang di bagian kepala, aku di tengah, dan adikku di kaki. Sesuai aba-aba, kami bertiga menyusupkan tangan ke bawah jasad ibu. Membopongnya bersama ke ruang tamu.

Kurasakan tanganku menyentuh kulit ibu yang masih basah setelah dimandikan. Kulit di bagian pinggulnya. Terasa lunak kulit itu.

“Pelan-pelan..” terdengar suara (entah siapa)  memberi aba-aba.

Lalu kami sampai di ruang tamu.  Dipan kayu warisan mendiang nenek (yang diambil abang dari toko) sudah ada di ruang tamu. Perlahan kami bertiga membaringkan ibu di dipan itu. Saat menaruh jasadnya di dipan, saat melepaskan tanganku yang membopong bagian pinggulnya, kembali tanganku bersentuhan dengan kulit ibu… dan itulah terakhir kali kulitku bersentuhan dengan kulit ibuku.

Aku lalu undur diri ke belakang. Mandi. Hatiku masih diam. Aku tidak ingin memikirkan apa pun… Hanya mengguyurkan air banyak-banyak ke tubuh. Sedikit berlama-lama.

Lalu  aku dipanggil. Ternyata mbok tua itu sudah selesai mengkafani ibu.  Dia minta kami bertiga, anak-anaknya, melihat sebelum dia mengkafani bagian wajah ibu. Momen terakhir di mana kami bisa menyaksikan wajah ibu.

Aku bergegas keluar dari kamar mandi. Di dekat dipan sudah berkumpul abang dan adikku. Adikku lalu teringat sesuatu, dia lalu memanggil kekasihku –a quick good decision. Berempat kami lalu menyaksikan wajah ibu terakhir kali sebelum kain jarik itu menutup.

Barangkali seperti sebuah gerak lambat, aku masih bisa menyaksikan wajah ibu ketika kain jarik itu separuh menutup, separuh melayang di atas wajahnya.  Pada separuh momen itu aku masih bisa melihat raut ibuku, dan entah kenapa, tiba-tiba, aku merasa ibu begitu tenang.

Lalu kain jarik itu menutup. We never see her face again…

***

Pukul setengah 4, jenazah ibu disemayamkan di musholla.  Setelah sholat jenazah (dan sholat ashar), keranda pun diangkat.

Dari kampung ke pemakaman (berjarak kurang lebih 1 kilometer) aku bergantian mengangkut keranda itu, di depan sebelah kanan. Menjelang tiba di pemakaman, seorang pemuda kampung hendak menggantikanku mengusung keranda. I said no.

Lalu kami tiba di lubang kubur. Keranda diturunkan, dibuka, dan kakak sepupuku secara inisiatif turun ke liang lahat, menjadi penerima jenazah ibu di bawah.  Orang-orang kampung sempat saling menyuruh agar ada lagi yang menerima jenazah di liang lahat. (karena biasanya ada 3 orang yang menerima jenazah di liang lahat).

Dan sesuatu seperti mendorongku. Instingtif. And I made this small important decision..

Aku turun ke dalam kubur. Ke lubang tempat ibuku akan dikubur. Lalu adikku ikut turun.

Dari dalam kubur, kami bertiga menerima jenazah ibu yang diserahkan oleh orang-orang kampung di atas.  Kami bertiga menerima jenazah itu dengan gerakan seperti memeluk, lalu menaruhnya di liang lahat. Lubang kecil selebar kurang lebih 60 centi dan tinggi 90 centi.

Jenazah ibu dimiringkan, menghadap kiblat. Kakak sepupuku menghadap bagian kepala, aku di tengah, dan adikku di kaki. Bertiga kami memiringkan jasad ibu, lalu memasukkannya ke dalam liang kecil itu.

Bola-bola tanah liat yang berfungsi sebagai bantalan lalu diturunkan oleh orang-orang di atas. Aku menerima bola-bola itu, lalu melesakkannya ke bagian belakang jasad ibu, sebagai penahan agar jasadnya tetap miring menghadap kiblat.

Uhh… terlalu sempit ternyata. Bola-bola itu terlalu besar. Terpaksa jasad ibu semakin kumiringkan dan bola-bola itu agak kupaksa masuk. Satu bola di bagian pinggul, satu bola di dekat paha.

Pada momen itu…

Seperti ada suara lain yang berbicara secara spontan dalam diriku. Suara yang berjarak, dingin, yang menegaskan kembali apa yang sedang terjadi.

Aku memasukkan ibuku ke tanah…

Ah, otakku yang dingin dan ironis.  Pada momen seperti itu pun kau tidak kehilangan daya ironismu. Yeah, right, I put my mother on the ground.  Ibu yang kucintai dan sangat kuhormati ini kini justru kumasukkan ke dalam tanah. Ke liang lahat. Tempat di mana jasadnya akan hancur karena dimakan cacing dan karena proses pembusukan.

Adalah aku –anak yang mencintainya—yang justru membenamkan tubuh ibuku ke tanah.

Tapi mungkin memang begitulah skenario Allah.. dan aku bersyukur…

Sebab realitas itu seperti menamparku, menyadarkan bahwa ibuku sudah meninggal. Memaksaku menerima kenyataan itu dengan dingin –tak peduli betapa ironis atau menggiriskan.

She had died.

***

Lalu tali-tali kafan dilepas, dan kakak sepupuku meneriakkan adzan dan iqomat. Setelah selesai, papan-papan penutup liang lahat dipasang. Tubuh itu tidak tampak lagi. Kami bertiga naik ke atas, lalu orang-orang kampung mulai mengayun cangkul, menimbun lubang itu dengan tanah.

Aku juga ikut mengayun cangkul. Menimbunkan tanah ke lubang kubur ibuku. Makin lama timbunan itu makin tinggi. Setengah jam usai, dan kini ibuku terkubur sedalam 2 meter di dalam tanah. Sendiri.  Menanti malaikat munkar-nakir yang akan datang menanyai.

“Kapan malaikat kubur datang?” tanya kekasihku.
“Setahuku tujuh langkah setelah orang terakhir meninggalkan kubur,” jawabku.

Satu-persatu orang-orang kampung pergi. Sudah agak sepi. Tinggal beberapa orang lagi yang masih di sana. Aku lalu mengajak kekasihku pergi. Kupikir tidak perlu bila diriku memaksa menjadi orang yang terakhir meninggalkan kubur. Konyol dan berlebihan kiranya.

So we left.

***

Ah, mama, mama..

Kematianmu adalah sesuatu yang indah. You had a beautiful death. Sebelum meninggal, selama lebih dari 12 jam kau terbaring dalam sakaratul maut. Napasmu satu-satu, tapi ruhmu belum jua lepas. Kau seperti sengaja menanggungkan siksaan sakaratul maut itu.

Tapi, demi apa..? Demi menunggu bertemu anak-anakmu?

Tidak. Kukira tidak. Bukan demi itu. Bukan demi menunggu kami kau disiksa.

Aku sudah menangis sejak lama. Sejak berjam-jam (dan berhari) sebelum ajalmu tiba.  Jumat malam itu, saat di kereta bersama adikku, aku menangis saat menceritakan penjelasan ini. Penjelasan yang pernah kubaca, lalu tiba-tiba entah kenapa terlintas di kepalaku.

Penjelasan kenapa dirimu sampai perlu menanggung siksaan sakaratul maut itu…

Nabi Muhammad Saw bersabda, "Dahulu ada dua orang raja mukmin dan raja kafir. Raja yang kafir sakit. Ia menginginkan sejenis ikan bukan pada musimnya. Waktu itu, jenis ikan tersebut berada di dasar samudera. Para tabib yang putus asa menasihatkan agar raja segera mengangkat penggantinya. ‘Obat Baginda ada pada ikan ini. Kita tak mungkin mendapatkannya,’ kata mereka. Allah lalu mengutus salah seorang malaikat untuk menggiring ikan itu keluar dari lubangnya di dasar laut supaya orang mudah menangkapnya. Ikan itupun lalu ditangkap. Raja memakannya dan ia segera sembuh.

"Kemudian Raja yang mukmin juga jatuh sakit. Ia menderita penyakit yang sama seperti yang diderita raja kafir. Tetapi ia sakit pada waktu ikan yang menjadi obatnya itu berada pada permukaan laut. ‘bergembiralah, sekarang ini musim munculnya ikan itu,’ kata para tabib. Lalu Allah mengutus para malaikat untuk menggiring ikan-ikan itu dari permukaan laut sampai masuk kembali ke lubang-lubangnya di dasar laut. Orang-orang tak mampu menangkapnya.

"Para malaikat langit dan penduduk bumi keheranan. Mereka kebingungan. Kemudian Allah mewahyukan kepada para malaikat langit dan kepada para nabi di zaman itu, ‘Inilah Aku. Yang Pemurah, Pemberi Karunia, Mahakuasa. Tidak menyusahkan Aku apa yang Kuberikan. Tidak bermanfaat bagi-Ku apa yang Kutahan. Sedikit pun Aku tidak menzalimi siapa pun. Adapun raja yang kafir itu, Aku mudahkan baginya mengambil ikan bukan pada waktunya. Dengan begitu Aku membalas kebaikan yang ia lakukan. Aku balas kebaikan itu sekarang supaya ketika ia datang pada hari kiamat, tidaklah ada kebaikan pada lembaran-lembaran amalnya. Ia masuk ke neraka karena kekufurannya.

Adapun raja yang ahli ibadat itu, Aku tahan ikan itu pada waktunya. Dia pernah berbuat salah. Aku ingin menghapuskan kesalahannya itu dengan menolak kemauannya dan menghilangkan obatnya supaya kelak dia datang menghadap-Ku tanpa dosa. Dan dia pun masuk ke surga."

(hadist Qudsi)

Insyaallah, itulah penjelasan kenapa dirimu sampai menanggungkan siksa sakaratul maut berjam-jam. Bukan demi menunggu kami tiba dari Jakarta.

Insyaallah Allah membalas dosa-dosamu di dunia ini dengan siksaan itu, dengan sakitnya sakaratul maut itu, agar lunas dosa dan hutang-hutang itu, hingga amalan baik saja yang kau bahwa ketika menghadap-Nya…

For years, I’d  witnessed you doing things I can’t do untill today… Selama bertahun-tahun, hampir tiap malam aku menyaksikanmu bangun untuk sholat tahajud.. menyaksikanmu membaca surat Yaasin dan Al-Mulk setiap malam jumat.. menyaksikanmu bangun tepat subuh agar bisa berjamaah di musholla.. menyaksikanmu berangkat pagi-pagi mengikuti pengajian di masjid…menyaksikanmu sholat dhuha sebelum berangkat ke pasar… menyaksikanmu berdizikir memutar-mutar tasbih sampai tertidur…

Kau menjalani hidup sebagai abid (ahli ibadah) yang kuat. Rutin. Bertahun-tahun. Dalam kesendirianmu setelah ayah meninggal…

Jadi tidak, tidak.. bukan demi menunggu kami dirimu bertahan. Insyaallah bukan itu. Kami, anak-anakmu, adalah alasan yang terlalu rendah…

Jadi, mama, pada akhirnya memang insyaallah dirimu tidak punya masalah. Masalah adalah untuk kami, mereka yang ditinggalkan. Aku yang bersedih, yang menangis. Tapi tidak dirimu.

Ah… aku tidak ingin terlalu sentimentil. Tidak ada gunanya..

You lived a religious life, for years… and I shouldn’t have worry about you. I should have worried about myself, about my way of life… yang sampai sekarang masih jauh dibandingkan kualitas-kualitasmu.. May Allah help me…

Jadi, mom.. it’s the end. Insyaallah aku akan selalu mendoakanmu.

Terkadang diriku masih sentimentil bila mengingat dirimu. Namun insyaallah aku sekadar bergelombang, sekadar bergoyang air yang tenang itu.. tapi tidak lantas larut dalam kesedihan tiada berarti.

You died. Aku membenamkan jasadmu ke tanah.

Ke tanah, ke tanah
Tidur terakhirmu, ibu

Farewell…

 

 

Bring it on

24 March 2007, posted in personal, 0 Comments »

My head feels like to blow today. My mother is still sick and things aren’t getting better. The price of her medicines is so high that I hardly afford it. I can only curse the government for its failure in drug-price-control!

(Hoi, Health Department! What the hell your job is?)

Another two millions flew to Kaliwungu. That’s okay. I don’t mind. It’s still in my range. I still got a few bucks left in my pocket. Not much, but for a thin person like me -who often eats once a day- that ‘few bucks’ are certainly enough.

"It’s okay, Mom. Don’t worry about the money. Let your children worry about it.”

Then this call came up. Someone from my past who brought another ‘romance problem’. Oh, God! I don’t have energy for another ‘romance problem’!

But that’s okay. I still don’t mind. I still managed to stay calm and listen attentively.

Then this email showed up. A complaint about my delay to submit my work [sighed].

***

Rasanya aneh…sekaligus sendu..

Posting di atas adalah uneg-unegku beberapa bulan lalu. Tapi sekarang itu tak berarti lagi. My mom died, hari Sabtu, 10 Maret 2006, sekitar pukul 04.37 pagi.

Ada banyak hal terlintas di kepalaku about her death.

Tapi tidak sekarang. I just cant do it now. Perhaps later.

Farewell, Mom..

Encounter with Peter Sanders

27 February 2007, posted in personal, 0 Comments »

Image Hosted by ImageShack.us

KAMIS kemarin saya dan Niko (fotografer kantor) mengikuti Peter Sanders berburu gambar di ponpes Darunnajah. Kami ditemani Bu Edith, kepala humas kedubes Inggris. Kami janji bertemu jam 9 di hotel Mandarin Oriental.

Sanders adalah fotografer terkenal. Dia spesialis memotret dunia Islam. Meski bule asli (warga negara Inggris), Sanders seorang muslim. Dia sudah memotret komunitas Islam di berbagai negara -Maroko, Senegal, Mesir, Cina, Mali dll- sejak tahun 1971 (aku belum lahir, bahkan).

Kalau tidak percaya, coba search “Peter Sanders” di google. Ada cukup banyak situs berita online yang masih memajang foto-fotonya (antara lain BBC). Profil dia juga cukup banyak ditulis di katalog pameran fotografi atau surat kabar.

Sekarang usia Sanders sudah 60 tahun, dan masih juga bekerja. A very great person.

Sekitar jam 9 Sanders turun ke lobi hotel. Ia memakai kopiah dan jas hitam. Bu Edith memperkenalkan kami sebagai wartawan yang hendak mewawancarai dan melihat cara dia bekerja. Sanders mengangguk sambil tersenyum.

Sebelumnya Bu Edith menanyakan apakah saya bisa berbahasa Inggris. Kalau tidak berarti dia harus jadi penerjemah. Saya bilang bisa. Oke, kata Bu Edith, berarti ntar saya duduk di belakang, mas dan Sanders duduk di tengah biar bisa ngobrol. Sedang Niko duduk depan, dekat sopir.

Dalam perjalanan ke ponpes Darunnajah, Sanders lalu bercerita bagaimana awalnya dia bisa memeluk (convert to) agama Islam. Usianya waktu itu 24 tahun. A very interesting story.

Pada tahun 1960-an, ternyata Sanders sudah menjadi fotografer professional. Tapi waktu itu yang dipotretnya kebanyakan pentas musik (alias fotografer musik). Beberapa nama besar dalam dunia musik seperti Jimmy Hendrix, Rolling Stones, pernah dijepretnya.

1960-an di Inggris adalah era drugs dan sex. Slogan anti-perang “make love not war” sering diterjemahkan secara harfiah. Daripada perang, mending bercinta. Jadi tidak heran kalau pentas-pentas musik anti-perang sekaligus menjadi ajang drugs dan sex bebas.

Untungnya Sanders termasuk bersih. Dia tidak nge-drugs. Apalagi pada masa itu dia lebih terserap oleh pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya spiritual.

Untuk apa saya di sini? Apa arti hidup ini? Akan ke mana saya? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala saya, kata Sanders.

Lalu manajemen Rolling Stones mendekat. Sanders dapat tawaran menjadi fotografer Rolling Stones selama tur 3 bulan keliling Eropa. Tawaran itu ia tolak.

“Kenapa?” tanya saya
“Rolling Stones sangat berat kecanduan narkotik. Saya tidak mau terkurung selama tiga bulan bersama mereka. Rasanya tidak benar, ” katanya.

“I had a quiet life when I was young,” tambah Sanders lagi.

Hmm… kehidupan masa muda yang tenang? Entah kenapa mendengar istilah “quiet life” saya mendapat visualisasi pemuda yang pendiam, tidak banyak tingkah, lurus-lurus saja, dan jelas sangat tidak cocok dengan Rolling Stones era 1960-an yang radikal.

Cerita Sanders berlanjut.

Rupanya, dia serius dengan kegelisahan spiritualnya. Setelah menolak tawaran Rolling Stones, Sanders bertolak ke India untuk mencari pemahaman spiritual. Dia berguru pada seorang guru desa (semacam seikh) yang beragama Hindu dan tinggal di rumah gurunya selama 6 bulan. Dia mempelajari Hindu, Islam, dan agama Sikh di sana.

“It was a spiritual journey,” katanya.

Setelah 6 bulan tinggal di India Sanders kembali ke Inggris. Lalu suatu malam, dia bermimpi bertemu gurunya yang beragama Hindu itu. Dalam mimpi itu sang guru berdiri dekat sebuah ruang kelas, lalu tangannya bergerak memberi isyarat agar Sanders memasuki ruang kelas tersebut.

Sanders pun masuk. Dan ternyata ruangan itu berisi para siswa-siswa muslim yang tengah mempelajari agama Islam (semacam madrasah).

“Bagaimana Anda menafsirkan mimpi itu?” tanya saya
“Bahwa saya memang diarahkan untuk memasuki jalan itu,” katanya.

Sempat ada proses pemikiran dan perenungan usai mimpi itu. Tapi akhirnya Sanders mengambil sikap. Suatu malam di toko karpet milik sahabatnya yang seorang muslim, berlokasi di Chelsea, Sanders mengucapkan dua kalimat syahadat. Waktu itu tahun 1971. Usianya 24 tahun.

Setelah itulah kata Sanders dia tidak lagi memotret pentas musik. Pada bulan ramadhan di tahun 1971 itu, kata Sanders, dia pergi ke Maroko dan (lagi-lagi!) mencari guru spiritual.

Saya tidak tanya bagaimana sebenarnya proses dia mencari guru spiritual itu, dan bagaimana bisa ketemu. Tapi kata Sanders di Maroko dia akhirnya mendapat guru spiritual yang hebat, seorang seikh di madrasah tradisional di Maroko.

“Usianya 108 tahun. Ulama yang sangat hebat,” katanya.

Guru spiritualnya yang baru ini ternyata memang hebat. Sebab dia meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Kata Sanders, pada musim haji tahun 1971, sang guru hendak naik haji. Sanders pingin ikut. Tapi dia tidak punya uang.

“Saya terus berpikir bagaimana supaya bisa ikut guru. Tapi saya tidak punya uang. Tapi kemudian ada orang yang memberi saya tiket,” katanya.

Sanders dan gurunya pun naik haji ke Mekkah. Naik pesawat. Tapi sebelum menunaikan ibadah haji, sang guru meninggal.

(Dan saya pikir insyaallah itu meninggal yang khusnul khotimah, karena guru itu meninggal ketika dalam perjalanan untuk beribadah)

Selanjutnya Sanders naik haji sendiri. Ia memotret Mekkah, suasana haji, juga masuk ke dalam Ka’bah. Dia bisa memotret Ka’bah karena mendapat izin dari kerajaan Arab Saudi.

“Saya menghabiskan tiga minggu masuk dari satu kantor ke kantor lain, minta izin. Akhirnya izin dari kerajaan diberikan,” katanya.

Kata Sanders, di tahun 1971 itu belum banyak foto-foto tentang haji. Dia termasuk salah satu fotografer pertama yang memberikan gambaran dari dalam tentang ibadah haji. “Foto-foto itu dibeli banyak media di Eropa,” katanya.

Setelah itu kata Sanders dia mulai terus memotret dunia Islam di berbagai negara, terutama komunitas Islam tradisional dengan seikh-seikhnya yang keras. Sanders punya cerita lucu tentang kehidupan madrasah di Maroko.

Suatu hari, katanya, ada seorang kawannya di Maroko yang menunjukkan balur-balur bekas memar karena sabetan tongkat. Rupanya para seikh di Maroko kalau mengajar di madrasah juga membawa tongkat (kayak di madrasah saya dulu), dan kalau ada murid yang ribut atau bego, maka zingggg! tongkat itu akan menyabet secepat kilat, hehehe…

(maklum pengalaman pribadi. Dulu pernah disabet juga sama tongkat oleh Pak Bonjari, guru saya di madrasah, karena guyon terus)

Sanders yang masih belum akrab dengan sistem pengajaran madrasah tradisional itu lalu bertanya pada kawannya, apa yang kemudian dia lakukan terhadap seikh yang keras itu.

“Oh, I prayed for him everyday. He taught me how to read Quran!” kata Sanders menirukan ucapan kawannya, lalu tertawa.

Saya ikut ngakak.

Sekitar jam 11 siang mobil yang kami tumpangi akhirnya sampai di ponpes Darunnajah. Obrolan saya dengan Sanders pun berhenti.

***

DI kos, saya sempat merenung memikirkan perjalanan spiritual Sanders. Entah kenapa ada semacam perasaan malu. Dia sungguh-sungguh dalam perjalanan spiritualnya. Sedang saya, yang justru lahir dan dibesarkan dalam tradisi Islam, kadang-serius kadang-males dalam soal spiritual.

Padahal Sanders besar di Inggris, di tahun 1960-an ketika drugs dan free-sex dominan dalam balutan anti-perang. Sedang saya besar di Kaliwungu, desa kecil dengan puluhan madrasah tradisional, pengajian-pengajian, dan seikh-seikh tua yang terus setia mengajarkan Islam hingga kini.

Ah, Allah memang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya…

Catatan:
- Foto di atas adalah karya Sanders yang diambil di masjid Hassan Fathy, Qerna, Mesir Selatan. Foto itu menjadi cover buku Sanders yang berjudul In The Shade of The Tree yang berisi kompilasi 35 tahun perjalanannya memotret dunia Islam. Foto itu saya peroleh dari internet.

- Sejak tanggal 21 sampai 26 Februari diadakan pameran foto Peter Sanders berjudul “The Art of Integration” di aula Universitas Paramadina, Jakarta, yang didukung oleh kedubes Inggris. Rencananya pameran itu akan dikelilingkan ke kota-kota lain di Indonesia. Setelah dari Paramadina, selanjutnya foto-foto itu akan dipamerkan di Universitas Indonesia (tapi hanya fotonya, sedang Sanders sendiri sudah pulang ke Inggris).

Enjoying flirt is dangerous

09 January 2007, posted in sophie, 0 Comments »

Bagaimana reaksi wanita kalau dirayu?

Tadi siang waktu liputan di sebuah kantor aku melihat pemandangan menyebalkan. Ceritanya dimulai waktu aku nongkrong di ruang humas, lalu diajak oleh salah satu sfat humas di sana untuk mengambil materi konferensi pers.

Si staf humas itu masih muda. Kurang lebih sebaya denganku. Kelihatan kalau masih lajang. Kulit putih, rambut cepak, lumayan oke untuk pemandangan para wanita kesepian.

Lalu di tangga, secara tak sengaja kami bertemu seorang wanita. Dia sudah tidak muda lagi. Sekitar 30-an tahun. Pinggulnya lebar tanda sudah pernah melahirkan. Cuma kulitnya memang putih, wajahnya lumayan menarik. Khas wanita metropolitan yang terawat.

Then, si pemuda humas itu tempted her.

Geblek!

Dan reaksi wanita itu, bah, ternyata tidak jauh beda dari gaya perawan kalau digombali: tersenyum, mengelak malu-malu kucing, tapi tidak meng-cut. Enjoy beibeh.

Geblek lagi!

Berikut sebagian dialognya (kukutip dari ingatan):

“Mbak, kok makin seger aja seh?”
“Ah… (ketawa kecil)… anakku sudah tiga lho..”
“(si pemuda ngomong bahasa sunda, ga paham artinya) senyum-senyum
“.. hhh.. anakku udah gede lho…” (masih tertawa kecil, memiringkan tubuh di tangga)
“lho.. justru tua-tua keladi, makin tua makin jadi…”
(si pemuda senyum, lalu berlalu, meninggalkan wanita itu yang masih tertawa kecil)

Hhhh… dasar-dasar…!!!

Aku berhasil mempertahankan ekspresi netral mendengarkan rayuan gombal 1980-an ala novel Freddy S itu. Tapi command centerku ga bisa netral. Ibu ini jelas bukan tipe wanita nakal –I’m sure of it. Dia insyaallah tidak memberi sinyal-sinyal ‘kepingin’. Dia wanita baik-baik. She just laughed.

Cuma, dari gesture-nya yang miring-miring di tangga, terlihat kalau dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya bahwa di usianya yang sudah 30 lebih masih ada cowok yang menggodanya. Masih mengagumi tubuhnya yang ’seger’.

Kalau kata tips-tips di majalah wanita abad 21: sometimes women do enjoy flirt.

***

Cuma, kalau diibaratkan perang, enjoying flirt means give more access for someone to go further. Berarti membuka resiko. Taking unnecessary risk. Si wanita itu akan kesulitan untuk mengelak dari fuckin’ dirty jokes yang (sangat besar kemungkinan) akan menimpanya.

Well, apa mau dikata. Sometimes women have the ilusion for control. They thought they can manage the fragile boundaries of enjoying flirt, that men should stop at the point she demanded.

But in reality, that’s not what usually happens. Pria, apalagi tipe hidung belang, cassanova, para oportunis, tidak akan mentah-mentah mematuhi garis yang dipatok. They will attempt to go further. So, you cant’ enjoy flirt without taking the risk of being sexually harassed. Itu seperti mau berdesakan di KRL tapi ogah terciprat keringat orang lain.

Sesuatu yang agak kurang realistis.

***

Cuma untungnya si pemuda itu tidak terlalu jauh menggoda. Belum kelewatan. And perhaps that’s why si wanita masih bisa tertawa dan miring-miring di tangga. Dia masih bertemu pria-pria yang cukup aman dan tahu batas. She’s still able to manage the fragile boundary.

Dan mudah-mudahan saja tetap begitu. Karena insyallah ibu yang kujumpai di tangga itu adalah wanita baik-baik. No dirty smile nor ‘inviting’ gesture. She just enjoyed the flirt.

Hip Hop, R&B, and Rhyme

19 December 2006, posted in books, art, literature, 2 Comments

ImageShack.us

My first encounter with hip hop music started when my music editor asked me to review “Sweet/Sweat” by Nelly. I dont even recognize that name at that time. I remembered calling a friend in Semarang and asked her this stupid question:

“U ever heard the name Nelly, a rapper?”
She laughed. “Of course I did. I listened to his songs.”

My friend, who is fortunately a much-better-informed rap fan than me, then told me a little bit about Nelly. I just listened to the phone while thinking it must be very stupid for a reviewer of Nelly — I mean me– to ask such stupid question. :)

But I finished writing the review. And not a very bad review, I guess. :D

Then came another assignment. This time was Usher, the R&B one. And for the first time also, I give no phone calls. :mrgreen: I managed finished writing it myself. And to be frank, I think my review of Usher was one of my best music reviews. It’s very informative, strong, and for the first time: personal.

I aint positioned myself as a cold-reviewer toward Usher. Instead my position was like a dedicated fan. Someone who loves his music, but at the same time also critical toward him. Not some ideological fan or idiots who bought his CD just because TV and the hip hop industry backed him.

It was also my first time to dig so deep into the world of R&B music. I read the history of R&B, its concept, its origin, its style, its differences with the (street) hip hop style, its prominent singers etc.

And just for information, R&B stands for “Rhythm and Blues”. It was the Billboard magazine who first introduced the term in 1940s. :mrgreen:

Then this assignment came. A few days ago. The same music-editor gave me the new album of Aikon entitled “Konvicted”.

I only need half an hour to decide “Konvicted” was great album. Something worth buying. I enjoyed listening to the the rhymes of this Senegal-American R&B singer. My head shaked all the time while listening to his music. (and I believe some people in the office wondered why my head behaved like that!) hehehe..

No need to explain to them. I’m writing this piece of blog article while still listening to “The Rain”, one of the best three songs in that album (besides “Smack That and “I Wanna Love You”).

The rhythm was perfect, the rhyme was superb. No to mention the violin-instrument touch in “The Rain”, which makes it more beautiful to listen to. Marvelous! 4 of 5 stars to Konvicted!

Personally I love the rhyme concept in “The Rain”. Simple. Though a little bit repetitive, overall one can sense the feeling of sitting in the bus, next to the window pane, watching the street, while it was raining outside, then began to think how life has changed much…

..One’s got me insane
Cause I can’t stand the rain
It’s hitting my window pane
A little too much
And now I gotta let ya know
One’s got my face in a frown
Aye
Cause I can’t stand the sound
Of the thunder that’s crashing down..

You wont understand the beauty of those lines above unless you listen to the song yourself. But as for the rhyme, why dont you try to read it aloud, and then you’ll find the nice repetitive pattern of ‘n’ .. which makes it structurally coherent!

(I’ve been listening to “The Rain” 3 times as I’m writing this line)

Speaking of rhyme, I think that what makes hip hop and R&B songs are special, since if you listen to other type of music, you wont find the great attention to rhyme as in hip hop or R&B music.

But if you read poetry, I believe it wont be difficult to appreciate rhyme in hip hop, since rhyme is also another artistic device of poetry itself. An example is one of my favourite poems from W.B Yeats below, “An Irish Airman Foresees His Death”

I know I shall meet my fate
Somewhere among the clouds above
Those that I fight I do not hate
Those that I guard I do not love

Feel the repetitive ‘o’ above?

Of course rhyme in hip hop is much more different from in poetry. Rhyme in hip hop doesnt employ the rigid structural convention as in romantic poetry of Yeats or in verses of Shakespeare.

I once happened to visit the site which discuss the use of rhyme in hip hop and find the examples below. :) (just cant stand smiling)

Britney Spears - sing me cheers, rickety stairs, bring me beers
George Bush - more mush, pork hooves, horse tush,
Pope Benedict the 16th - I scope derelicts who bring beef, I know heavyweights who fix teeth

That’s it. Enough this blogging-writing session. Got to do something else. :mrgreen:

I’m just tired and nothing more

16 October 2006, posted in personal, 2 Comments

Hari ini capek sekali. Di kantor aku sempat ngantuk di depan komputer. Hampir saja jidatku nubruk layar komputer tak berdosa ini.

Padahal sel saraf udah digenjot dengan kopi dua gelas. Tapi ngga mau on juga. Sel bandel itu kok justru mbayangin tidur di kasur empuk, bersih, buka baju, lalu ngguling-ngguling kayak kucing saking nyamannya.

Hayah.

Ini kan namanya insubordinasi. Aku sebagai bos udah kirim perintah ke neuron untuk stay on. Sampai tak sogok kopi dua gelas. Tapi dia kok mbandel. Ngga mau nurut. Bukannya segera on kok malah ngguling-ngguling dalam khayalan.

Nggapleki.

Marai aku misuh-misuh.

Kontradiksi.

Lha ada neuron ga mau ikut perintah bos itu kan kontradiksi. Sekaligus pembangkangan. Sebab sebagai human, aku ngga bisa menoleransi gejala federalisme dari organ-organ tubuhku.

Semuanya harus manut, satu komando, sami’na wa ato’na. Biar aku dikate despot go to hell. :mrgreen:

Tapi setelah dipikir-pikir, aku memutuskan untuk open-mind. Siapa tahu neuron yang ngeselin ini tidak sedang menggalang pemberontakan. Bisa jadi dia sekadar menyalurkan aspirasi yang tersumbat.

“Hoi bos, gue capek nih disuruh on terus!”
“Gue demand waktu istirahat!”

Trying to be a wise ruler, aku dengerin curhat si neuron sambil manggut-manggut. Okay, keluhan ditampung. Tapi keputusan tetap ada di tanganku! Ga boleh protes! Protes mbayar!

Penasehat keamanan dalam negeri kasih masukan berharga. Katanya, kalau si neuron ini diabaikan aspirasinya, bisa-bisa kabupaten lain seperti mata ikut ngambek. Gawat kalau dia udah ngambek. Bisa-bisa bos –alias diriku– mendadak merem.

Thus, mempertimbangan unsur national security, kupikir ga apa-apalah kali ini diriku mengalah. Toh despotismeku ngga berkurang derajatnya. Kalau si neuron mulai bertingkah lagi, ntar kuterapkan pemerintahan tangan besi dengan memberi asupan gambar porno ke mata.

Mata pasti langsung on dikasih asupan kayak itu. Terus bawah perut mendukung. Dikeroyok dua kabupaten sekaligus, si neuron mau ngga mau pasti on juga. Divide et empera. Pecah belah dan jajahlah.

Huahahaha.. pemikiran jenius. Diriku memang cerdas.

Okay neuron, saat ini kutampung aspirasimu. Ayo pulang ke kos, tidur. But don’t forget who’s the boss. You macem-macem, tak hajar dengan klip Asia Carrera.

“Ora bos, ora wani macem-macem.”

Aku manggut-manggut, puas, bisa tetap mempertahankan derajatku sebagai despot.

“En you jangan lupa kalau ane bukannya mengalah, tapi karena lagi pingin berbesar hati. You remember that!”

“Ora, matur nuwun, bos,” kata neuron sambil munduk-munduk.

So, akhirnya bos, neuron, mata, dan kabupaten-kabupaten lain di sekitarnya bareng-bareng pulang ke kos. Istirahat. Tidur. Kasihan layar komputer ora salah dijeduki terus.

:mrgreen:

[semua kata-kata porno di posting ini bersifat fiksional dan tidak sungguh-sungguh diniatkan oleh si bos yang sebenarnya, insyaallah, baik hati.]

Some things are not to share

07 October 2006, posted in sophie, 0 Comments »

Aku lagi makan di warung (sebelum puasa) ketika wanita itu datang. She’s got a child with her. Ibu penjual warung yang tampak sudah mengenalnya, menyambut. Mereka berdua lalu ngobrol, mengacuhkan diriku yang lagi makan dan dan hanya berjarak dua meter darinya (hingga aku bisa mendengar).

Dari ngobrol basa-basi soal pekerjaan, perbincangan mereka akhirnya melebar. Sesekali si wanita-dengan-anak itu bicara dengan suara keras.

“Saya bilang sama dia, kalau memang lu serius, ngapain masih dengerin omongan keluarga?”

“Iya, yang namanya rumah tangga itu, kalau masih dicampurin keluarga, ngga akan pernah bener,” timpal ibu penjual warung.

Hek!

Command center di otakku seketika mengirim implus alarm begitu kata “rumah tangga” dan “keluarga” terdengar. These two women are now talking about marriage.

Dan memang benar. Beberapa detik kemudian habis sudah basa-basi soal anak, pekerjaan dsb itu. Mereka lalu asyik bicara tentang perkawinan. Yakni perkawinan wanita yang datang dengan anak kecil itu.

Ternyata wanita itu sudah bercerai dari suaminya. Penyebab perceraian mereka tidak jelas. Tapi dari obrolan mereka aku bisa menyimpulkan kalau keluarga suaminya (yang terlalu banyak intervensi) adalah penyebab perceraian tersebut.

Wanita itu sekilas melihat ke arahku, menyadari kalau aku pasti juga mendengar obrolannya barusan. Tapi dia tetap melanjutkan ceritanya. Sesekali nadanya terdengar emosi, bahkan menjelek-jelekkan, mantan suaminya tersebut.

“Dia itu, kalau ngga dibantu terus sama abangnya yang kerja di perusahaan, bisa apa? Paling udah mati!” umpatnya lagi.

That’s it. Secara instingtif aku sudah merasa berada di titik yang sangat-tidak-nyaman mendengarkan pembicaraan mereka. Quickly I finished my ice tea, paid the bill, and keluar dari warung itu.

Ya ampun Mbak, Mbak… buat apa kau jelek-jelekkan mantan suamimu di depan orang lain? –those words echoed in my head as I walked away.

***

I ain’t married yet. Jadi aku tidak tahu seperti apa kehidupan rumah tangga. But one thing is sure. It is a sacred place, mungkin semacam makam suci ala orang-orang Indian, di mana trespassers will be axed immediately once they crossed it. Tanpa basa-basi atau interogasi lebih dulu.

Why? Since it’s about dignity. Harga diri. Kehormatan. You don’t let people meneropong seperti apa kondisi rumah tanggamu, membiarkan mereka mengetahui rahasia-rahasia di sebaliknya. Apalagi mengumbarnya kepada dua orang outsiders seperti tukang warung dan seorang pengunjung yang lagi kebetulan makan di sana –yakni saya.

Though her marriage is over, I personally think she should have higher standard tentang mana informasi yang layak diketahui publik dan mana yang tidak. Sebab dengan menjelek-jelekkan mantan suaminya, lalu mengumbar kisah rumah tangganya, berarti dia telah membuka aibnya sendiri. In other words: dia mempermalukan dirinya sendiri.

Well, tentu saja kita bisa menggunakan sudut pandang lain, misalnya bahwa dia memang betul-betul menderita selama menikah dengan pria itu, so from that point of view, we could feel sympathetic for her.

But since I’m an old-fashioned type of guy (and at the same time I also use my head), menurutku memperdengarkan kisah rumah tangga yang sudah berakhir pada dua outsiders di warung nasi bukanlah hal yang layak diberi simpati. It’s pathetic.

And, consequently, to this type of woman, you can never trust her your secrets.

That’s what I think. And I believe it firmly.

***

.. to this type of woman, you can never trust her your secrets…

Entah kenapa kalau mengingat kejadian di warung nasi itu, kata-kata di atas yang paling kuat membekas di otakku. Aku tahu kalau ini preferensial sifatnya. Alias sangat-diriku-sekali.

Being an introvert guy, I never –once again, never— share my love stories to any outsiders. Apalagi sampai mengumbar detil seperti yang dilakukan wanita di warung nasi itu. Since it’s about dignity. Honor.

Bahkan saat my relationship was in trouble, I still managed to keep my mouth shut. I just swallowed it all.

Those who know me well-enough untungnya sudah mengerti kecenderungan ini. Jadi mereka enggan bertanya padaku regarding romance. Mereka tahu kalau akan mendapat jawaban-jawaban sebagai berikut:

“Let’s talk about something else.” (biasa)
“I don’t wanna talk about it” (biasa)
“no comment.” (biasa)
I keep silent. Not responding. (biasa)
“kau ini kenapa? Nanya soal itu terus? (agak keras)
dll yang sejenis.

Tapi ada juga yang pernah (dulu), karena tidak bisa menahan diri, menyampaikan “pandangannya” tentang my relationship. Rupanya kawan bersangkutan memiliki ‘penilaian’ tersendiri tentang my relationship dan menganggap aku perlu mendengarnya.

Hehehe… I stil remember ‘penyampaian pandangan’ yang terjadi ketika aku masih kuliah itu. As if something monstrous was roaring inside me as she spoke about ‘penilaiannya’.

Aku tidak ingat lagi apa yang kukatakan padanya waktu itu. Yang jelas I was roaring inside, but kept still, and responded coldly. Hubungan pertemanan kami jadi agak renggang setelah ‘penyampaian pandangan itu’.

Hehehe..

Ah, sudahlah. That was old times. Aku lagi tidak bercerita tentang diriku sendiri, melainkan lagi mengungkapkan refleksiku tentang peristiwa di warung nasi tempo dulu itu.

And those words above echoed strongly. Aku tidak bisa tidak mengelus dada ketika mengingat dia dengan suara keras mengumbar kisah rumah tangganya itu.

Mbak, Mbak… marriage is like a sacred tomb of the Indians. You axe people who dare to cross. Without asking nor interrogating. When you open that tomb and let outsiders come and see, then you’re not the type of woman whom man can trust their secrets.

Ada ibu dalam diriku

12 September 2006, posted in personal, 2 Comments

Ibuku sakit lagi. Di ruang ICU (Intensive Care Unit) itu sosoknya terbaring lemah. Selang oksigen menyusup di kedua lubang hidungnya. Tapi dia sadar. Ketika aku datang dan mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, lalu mencium tangannya, dia mengenaliku. Dia tersenyum.

Ah, mama, mama..

Aku selalu menganggapmu sebagai salah satu pejuang terhebat. One of the greatest warriors. Kehilangan suami pada usia 35 tahun, dengan tiga anak yang masih kecil, tidak punya pekerjaan, dan tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jakarta. Apa yang bisa diperbuat seorang wanita?

But you knew the answer. You went home, ke desa kecil berpenduduk 200 ribu orang ini, started your own business in the local market (dengan bantuan sana-sini), and you raised the three of us. Termasuk diriku, anak nomor dua yang bengal ini, yang masih terlalu kecil untuk memahami arti kehilangan, hingga ketika ayahnya meninggal, dia justru senang karena rumah jadi ramai. Banyak teman untuk bermain.

Aku ingat. Tahun 1995, ketika aku masih kuliah di Purwokerto, aku datang ke sebuah bazar buku Islam. Ada sebuah buku cerita bergambar (yang sebenarnya dijual untuk pasar anak SD) yang menarik perhatianku. Isinya tentang kisah hidup seorang sahabat nabi bernama Abu Dzar al-Giffari.

It’s a very touching story.

Ketika masa peperangan antara rasulullah vs orang kafir, Abu Dzar tertinggal dari pasukan. Ketika pasukan rasulullah sudah mendirikan perkemahan, sudah settle, barulah Abu Dzar terlihat dari kejauhan tengah menyusul dengan payah. Seorang diri.

Saat orang-orang berteriak ‘Abu Dzar datang! Abu Dzar datang!’ Rasulullah melihat ke arah Abu Dzar yang lagi berjalan, tersenyum, lalu mengucapkan hadist yang terkenal itu. Hadist yang membuat hatiku tergetar membacanya.

Besok kalian semua akan dibangkitkan menurut umat masing-masing. Tapi Abu Dzar tidak. Ia berjalan seorang diri, meninggal seorang diri, dan akan dibangkitkan seorang diri.

Dan benar. Abu Dzar akhirnya meninggal seorang diri di padang pasir.

Sejak mengetahui kisah itu, entah kenapa pikiran sentimentilku selalu mempararelkan dirimu dengan Abu Dzar. You two have something in common: seorang diri, kesendirian (bukan kesunyian) dalam hidup.

Aku makin sering mengingat momen-momen tersembunyi itu. Suatu malam di Jakarta, usai pertengkaran hebat dengan keluarga ayahku, tengah malam kau terbangun, lalu sholat, lalu menangis. Aku teringat menyaksikan sosokmu yang masih memakai mukena putih, menangis sambil menangkupkan Al Quran bersampul merah itu ke wajahmu.

Ya, Al Quran bersampul merah yang itu. Yang sampai detik baris ini kutulis, masih terletak di atas meja di kamarmu di rumah kita di Kaliwungu.

You didn’t see me, Mom. You didn’t know I was behind your back. But I was there, standing still, watching you crying..

Lalu aku teringat salah satu petuahmu, agar aku banyak-banyak membaca ‘la haula wala quwwata illa billah’. Karena memang itulah zikir favoritmu. Aku awalnya biasa saja. Sampai suatu ketika, secara tidak sengaja aku menemukan hadist yang menjelaskan riwayat zikir tersebut.

Dan ternyata, hadist itu berasal dari Abu Dzar. Karena memang kepada Abu Dzar-lah Rasulullah pertama kali memerintahkan kita untuk banyak-banyak membaca ‘la haula wala quwwata illa billah’.

Mom, I wonder.. jalan hidupmu, lalu zikir itu.

Is it a coincidence…?

Ah, entahlah. Perhaps it doesn’t matter anyway. Menjadi seorang Abu Dzar atau bukan, aku tetap menganggap dirimu a great warrior. A woman, but a fighter. And I don’t think I could compete with you..

Ini hari ketiga dirimu dirawat di ICU. Sudah tiga kantong darah kau habiskan. Slowly you’re getting better. Meski wajahmu masih pucat.

Hari pertama kau jatuh, ketika dalam perjalanan ke rumah sakit, di mobil, dalam keadaan sadar-tidak-sadar, kau berulang kali mengucap ‘aku sudah tidak kuat, aku sudah tidak kuat’, dan banyak orang khawatir, berpikir diam-diam kalau perjuanganmu sudah mencapai titik final. The end is near.

Tapi sampai detik ini kau masih di sini. Meski ini sudah kedua kalinya kau collapsed hingga harus ke rumah sakit, you’re still alive. Still smile. Still recognize me when I come. I hope the end is not near, Mom. I hope the end is not near. I pray for that.

Amin.

Untuk Ibu, yang mencintaiku dalam diam dan doa.

It’s birthday

04 September 2006, posted in personal, 0 Comments »

Hari ini, 4 September 2006, aku berulang tahun. I’m now 29. Still working at the same office, still struggling to manage my budget :D , and more importantly, still not married. :mrgreen:

Kemarin seorang kawan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Via email. Here’s the excerpt:

selamat ultah ya?.. semoga kita makin sadar that life is not forever… ayo buruan nikah… hehe…

Haha. Aku nyengir saja membaca emailnya. Entah kenapa kawan satu ini bersemangat sekali mengingatkan soal menikah. Well, understandable. Sebab terkadang ucapan atau saran kita juga menunjukkan who we really are ketimbang the opinion itself.

So, hanya ada satu penjelasan kenapa kawan satu itu menyinggung soal marriage: yakni karena dia sendiri juga sudah berniat untuk menikah. Mungkin sudah berniat untuk bersegera menikah. :mrgreen:

Tapi bagaimana dengan diriku sendiri? Well, as usual, blue nowhere bukanlah tempat yang cocok untuk mengungkapkan rencana-rencana pribadiku. Just wait and see, you guys. :mrgreen:

It’s now my birthday dan aku merasa saat ini mungkin aku harus sedikit berkontempelasi, merenung, berintrospeksi atas segala kesalahan-kesalahanku, dan sebisa mungkin tidak mengulanginya kembali. (And I try really hard)

Anyway, thanks for the email, kawan. Mudah-mudahan rencana kita berdua berjalan lancar-lancar saja. Amin.

The reason not to blog (for a while)

16 August 2006, posted in personal, 0 Comments »

Sudah sejak Desember ketika aku menulis posting pertama Blue Nowhere begins yang “legendaris” itu. :D Dan sampai sekarang posting di blogku masih ‘beberapa’ biji. Begitu sedikitnya postingan di blogku, hingga seseorang yang mengamati dari dekat perkembangan blog ini sempat berkomentar, “Desaine wae sing mbok ubah, dadi miring, dadi ngene, tapi postingane mung tetep loro [dua].” Begitulah komentarnya -kurang lebih.

Aku tidak memungkiri kalau for a while, I did stop blogging. And of course there must be a reason why is that so.

Dulu, when I first started this blog, I was merely impressed by the concept of “expressing things” in the blue nowhere. Tapi rupanya, lama kelamaan, sepertinya kebutuhan untuk “expressing things” itu rada berkurang. I started to prefer to keep everything inside my own head.

People change, they say. And me, Mr. Basf, the sole architect behind this blog, changed too seiring berjalannya waktu. Makin kalem, makin ogah mengolah [mempublikasikan] “instant feeling into a structured writing”, dan makin lebih suka mengutak-utik CSS demi mempertajam sense of design-nya yang -dalam pandangannya sendiri- makin lama makin sophisticated. Hehehe.. (Hayah, fiksi!)

Enough the trivial talk. I stop blogging because, for a while, I simply lost the passion. Or to be more accurate, I lost the passion to express my feelings and thoughts through writing. Instead of writing them down, I simply store them in a filing cabinet inside my head.

Tapi ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Alasannya simple. Kepalaku bisa penuh, alias ga bisa lagi menampung semuanya. :D Lagipula, kalau dipikir-pikir, ada enaknya juga menulis dengan blogging-mental-state seperti ini. Bisa menulis bebas, dengan gayaku sendiri, yang campur antara bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia baku, dengan tetap mempertahankan standar bahwa ada hal-hal yang worth writing dan yang tidak.

So, enam bulan lebih “istirahat” sepertinya sudah cukup. The cycle is now coming. It’s another turn to the blue nowhere.

Gatra class of 2004

24 February 2006, posted in personal, 1 Comments

reporter baru
dari atas searah jarum jam: rahman, elmy, deni, ajeng, alex, dessy (I wasn’t there)

Gatra class of 2004. Itu sebutanku untuk reporter Gatra angkatan 2004, yang di awal pendidikan (Juni 2004) berjumlah 15 orang, namun 9 bulan kemudian tinggal 7 orang.

Dan kini, tinggal 6 orang saja. One of those guys in the picture above resigned.

Lazimnya rekan se-angkatan, kami tentu punya ikatan emosional tersendiri. Sentimen angkatanisme istilah canggihnya. Dan kupikir itu wajar. Kalau di Polri saja -kabarnya- ada angkatanisme dalam pengangkatan jendral, kenapa di institusi lain tidak? hehe..

Iseng-iseng aku buka lagi file-file lama waktu kami diperkenalkan sebagai repoter baru.

SERAMBI

Reporter Baru

SEJAK pekan ini, daftar nama di masthead jajaran redaksi bertambah panjang. Ada delapan reporter baru yang mengisi Pusat Liputan. Dari 17 calon reporter –terseleksi dari 600 pelamar– tinggal mereka yang lulus setelah menjalani masa magang sembilan bulan di Gatra. ‘’Mereka cukup diandalkan,'’ kata Taufik Alwie, Kepala Pusat Liputan Gatra yang selama ini membina mereka.

Memang, Gatra sangat ketat dalam merekrut calon reporter. Maklum, mereka ujung tombak sebuah media. Sejak masa magang, mereka sudah digembleng memburu sumber berita ke segala penjuru. Karena itu, meskipun secara resmi baru dinyatakan lulus, bisa jadi mereka sudah akrab dengan banyak narasumber Gatra.

Sebut saja, misalnya, Alexander Wibisono, yang sempat berhari-hari ikut ‘’berpatroli'’ di perairan Ambalat. Alex, begitu kami memanggilnya, sudah sangat akrab dengan sejumlah pejabat di Departemen Luar Negeri atau kalangan artis. Memang, mereka selama ini “dipaksa” merambah berbagai bidang, sebelum kelak diarahkan sebagai spesialis. ‘’Saya siap ditugaskan ke mana pun,'’ kata Alex, bersemangat.

Lajang jangkung kelahiran Samarinda, 13 November 1980, itu semula ingin jadi penerbang. Tapi sekolahnya ‘’nyasar ‘’ ke Jurusan Ilmu Politik UI. Sempat bekerja di media internal perusahaan penerbangan, Alex akhirnya memilih berkarier di Gatra yang katanya penuh tantangan.

Lalu ada Ajeng Ritzki Pitakasari, kelahiran 14 Juli 1979. Arsitek lulusan ITS ini pernah bergabung dengan perusahaan konsultan arsitek. Toh, bekas pemain teater di kampusnya ini akhirnya memilih berkarya di dunia wartawan. ‘’Lebih asyik, banyak kenalan dan jadi banyak tahu masalah,'’ ujarnya.

Ada pula Basfin Siregar, lulusan Sastra Inggris Universitas Diponegoro. Anak Batak kelahiran 4 September 1977 ini memulai karier sebagai koresponden Gatra di Semarang dan sekitarnya. Merasa di daerah kurang tantangan, pemuda pendiam namun ulet ini ikut program rekrutmen Gatra di Jakarta.

Elmy Dyah Larasati, rekan Basfin sealmamater, juga memilih bergabung di Gatra karena merasa lebih tertantang. Sarjana hukum kelahiran 9 April 1980 ini sebelumnya bekerja di sebuah harian nasional. Pengalamannya di harian memperlancar tugas-tugas jurnalistiknya di Gatra.

Kemudian Dessy Eresina Pinem, lahir 22 Desember 1978. Ia lulusan Teknik Sipil dan Perencanaan ITB. Pernah bergabung di perusahaan konsultan perencanaan. Meski bertubuh mungil, anak Batak ini gesit dan tak kenal lelah. Ia pernah menginap dua hari di Sukabumi ketika meliput masalah ‘’dukun seleb'’ Gatot Brajamusti.

Reporter lainnya, Deni Muliya Barus, alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta Jurusan Perbandingan Agama. Namanya sih berbau Batak, tapi ia asli Banten, lahir 30 Desember 1979. Sejak bergabung di Gatra, Deni lebih banyak melakoni liputan kriminalitas. Ia dikenal gigih menguber sumber berita sulit.

Lalu Rahman Mulya. Cowok kelahiran 10 Februari 1980 ini lulusan Teknik Industri ITB. Ia pernah bekerja di sebuah perusahaan industri. Tapi tak betah, dan memilih memperkuat Gatra serta menjadi salah satu ujung tombak andal.

Terakhir, Eric Samantha. Ia reporter baru wajah lama. Lulusan Teknik Sipil ITB kelahiran 18 September 1979 ini sebelumnya sudah menjadi reporter Gatra. Ia kemudian mundur karena ingin mengembangkan usaha sang ayah di bidang properti. Tapi semangat wartawannya terus menggoda. Jadilah ia kembali menekuni dunia jurnalistik.

Itulah duta-duta baru Gatra di lapangan yang mungkin sudah Anda kenal dengan baik. Kami harap, hubungan mereka dengan Anda, pembaca atau narasumber Gatra, yang selama ini sudah terjalin baik semakin erat dan meningkat. Terima kasih atas kemudahan dan akses informasi yang Anda berikan pada mereka dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

Gatra, Edisi 27/XI 21 Mei 2005

Hmm.. what a class! Complex, sophisticated, different field of interest, but the most important of all: still trust to each other.

Blue Nowhere begins

14 December 2005, posted in techie, 0 Comments »

Image Hosted by ImageShack.us

Setelah beberapa minggu terakhir sibuk mengutak-atik CSS (Cascading Style Sheet), termasuk di antaranya terus mendengarkan komentar Si Jenk-jenk yang kadang mengesalkan itu (Lha kok blogmu dadi ancur ngene) :) (basf says: lha rung dadi kok dikomentari!) , akhirnya blog ini jadi juga. Cihuiii!

Tapi, kenapa Blue Nowhere?

Well, aku bukan tipe yang suka melanggar etika jurnalistik (apa hubungannya coba?), maka itu perlulah kukasih semacam pengantar, penjelasan, introduction (istilah canggihnya) kenapa aku memilih nama Blue Nowhere untuk blog ini.

Istilah Blue Nowhere pertama kali aku jumpai lewat sebuah novel yang berjudul sama. Novel itu ditulis oleh Jeffrey Deaver, yang bisa dibilang sebagai salah satu novelis favoritku. Si Jeffery inilah yang juga menulis novel berjudul The Bone Collector yang kemudian difilmkan itu (dibintangi oleh Denzel Washington dan Angelina Jolie).

Blue Nowhere adalah novel thriller yang bertema hacking. Penjahatnya, seorang dengan nickname Phate, adalalah hacker jahat yang sangat terlatih dalam social engineering dan menggunakan kemampuan itu untuk membunuh. Untuk melawan Phate, polisi akhirnya mengeluarkan seorang hacker tangguh dari penjara (ditahan karena pelanggaran federal) bernama Wyatt Gillette untuk membantu.

Nah, Si Gillette inilah yang pertama kali menggunakan istilah “Blue Nowhere”. Secara terminologis, istilah itu berarti dunia mesin, atau dunia cyber. Yakni dunia yang dibentuk oleh koneksi antar-komputer lewat serat kabel optis (atau wireless). Blue Nowhere, dengan demikian, adalah kata lain untuk INTERNET.

Gillette lebih suka menggunakan istilah Blue Nowhere ketimbang Machine World atau Cyber World karena alasan yang bersifat personal, sekaligus filosofis. Istilah “Blue” mengacu pada listrik yang membuat komputer bekerja. Sedang “Nowhere” mengacu pada tempat maya, yakni tempat yang bukan di mana-mana.

Ketika seorang memasuki internet, maka sebenarnya dia tidak berada di mana-mana. Hanya di depan komputer, menjelajahi berbagai situs www, ftp, usenet dan lain-lain. Secara psikologis dia mungkin “bergerak”, berpindah dari satu situs ke situs lain. Menjelajah, berkomunikasi. Tapi secara riil dia hanya duduk di depan komputernya. Karena itu, kupikir betapa tepatnya istilah “Nowhere” ini.

Aku suka istilah itu (cool). Dan aku juga suka implikasi filosofis yang dikandungnya. And that’s the reason why I use it as the name of my blog.

Novel itu juga memiliki latar belakang riset yang bagus. Jeffery, kukira, banyak terinspirasi oleh kisah-kisah hacking Kevin Mitnick. Siapa itu Kevin Mitnick? Dia adalah salah satu hacker paling terkenal di Amerika. Didakwa atas 27 kegiatan hack dan divonis 5 tahun. Beberapa kegiatan hacknya misalnya membobol komputer Sun Microsystems, Fujitsu, Motorola dan Nokia. Dalam persidangannya, jaksa penuntut mengucapkan kalimat yang kemudian jadi terkenal, bahwa Kevin Mitnick is “dangerous when armed with a keyboard”.

Kalau mau baca artikel tentang Kevin yang ditulis oleh dia sendiri, simply click here. (It’s worth reading!)

Sebagai sebuah blog yang sifatnya personal, mungkin agak aneh kalau namanya kuambil dari sebuah novel bertema hacking? Apakah kemudian isi blog ini akan didominasi oleh info seputar hacking? :D Of course not! (read those lines below my pics to view my job! and don’t forget IT!)

Blog pada dasarnya adalah diari. Hanya, blog berbeda dari diari biasa. Blog adalah diari yang kita taruh di tempat khusus, di sebuah tempat bernama situs, yang dalam hal ini dihosting oleh Blogsome, yang merupakan bagian kecil dari sebuah tempat maya bernama internet. Blog, dengan kata lain, berada di BLUE NOWHERE.

Jadi, sekali lagi, kupikir betapa tepatnya istilah itu untuk nama blogku ini. ;)