Ada ibu dalam diriku
12 September 2006, posted in personal,
Ibuku sakit lagi. Di ruang ICU (Intensive Care Unit) itu sosoknya terbaring lemah. Selang oksigen menyusup di kedua lubang hidungnya. Tapi dia sadar. Ketika aku datang dan mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, lalu mencium tangannya, dia mengenaliku. Dia tersenyum.
Ah, mama, mama..
Aku selalu menganggapmu sebagai salah satu pejuang terhebat. One of the greatest warriors. Kehilangan suami pada usia 35 tahun, dengan tiga anak yang masih kecil, tidak punya pekerjaan, dan tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jakarta. Apa yang bisa diperbuat seorang wanita?
But you knew the answer. You went home, ke desa kecil berpenduduk 200 ribu orang ini, started your own business in the local market (dengan bantuan sana-sini), and you raised the three of us. Termasuk diriku, anak nomor dua yang bengal ini, yang masih terlalu kecil untuk memahami arti kehilangan, hingga ketika ayahnya meninggal, dia justru senang karena rumah jadi ramai. Banyak teman untuk bermain.
Aku ingat. Tahun 1995, ketika aku masih kuliah di Purwokerto, aku datang ke sebuah bazar buku Islam. Ada sebuah buku cerita bergambar (yang sebenarnya dijual untuk pasar anak SD) yang menarik perhatianku. Isinya tentang kisah hidup seorang sahabat nabi bernama Abu Dzar al-Giffari.
It’s a very touching story.
Ketika masa peperangan antara rasulullah vs orang kafir, Abu Dzar tertinggal dari pasukan. Ketika pasukan rasulullah sudah mendirikan perkemahan, sudah settle, barulah Abu Dzar terlihat dari kejauhan tengah menyusul dengan payah. Seorang diri.
Saat orang-orang berteriak ‘Abu Dzar datang! Abu Dzar datang!’ Rasulullah melihat ke arah Abu Dzar yang lagi berjalan, tersenyum, lalu mengucapkan hadist yang terkenal itu. Hadist yang membuat hatiku tergetar membacanya.
Besok kalian semua akan dibangkitkan menurut umat masing-masing. Tapi Abu Dzar tidak. Ia berjalan seorang diri, meninggal seorang diri, dan akan dibangkitkan seorang diri.
Dan benar. Abu Dzar akhirnya meninggal seorang diri di padang pasir.
Sejak mengetahui kisah itu, entah kenapa pikiran sentimentilku selalu mempararelkan dirimu dengan Abu Dzar. You two have something in common: seorang diri, kesendirian (bukan kesunyian) dalam hidup.
Aku makin sering mengingat momen-momen tersembunyi itu. Suatu malam di Jakarta, usai pertengkaran hebat dengan keluarga ayahku, tengah malam kau terbangun, lalu sholat, lalu menangis. Aku teringat menyaksikan sosokmu yang masih memakai mukena putih, menangis sambil menangkupkan Al Quran bersampul merah itu ke wajahmu.
Ya, Al Quran bersampul merah yang itu. Yang sampai detik baris ini kutulis, masih terletak di atas meja di kamarmu di rumah kita di Kaliwungu.
You didn’t see me, Mom. You didn’t know I was behind your back. But I was there, standing still, watching you crying..
Lalu aku teringat salah satu petuahmu, agar aku banyak-banyak membaca ‘la haula wala quwwata illa billah’. Karena memang itulah zikir favoritmu. Aku awalnya biasa saja. Sampai suatu ketika, secara tidak sengaja aku menemukan hadist yang menjelaskan riwayat zikir tersebut.
Dan ternyata, hadist itu berasal dari Abu Dzar. Karena memang kepada Abu Dzar-lah Rasulullah pertama kali memerintahkan kita untuk banyak-banyak membaca ‘la haula wala quwwata illa billah’.
Mom, I wonder.. jalan hidupmu, lalu zikir itu.
Is it a coincidence…?
Ah, entahlah. Perhaps it doesn’t matter anyway. Menjadi seorang Abu Dzar atau bukan, aku tetap menganggap dirimu a great warrior. A woman, but a fighter. And I don’t think I could compete with you..
Ini hari ketiga dirimu dirawat di ICU. Sudah tiga kantong darah kau habiskan. Slowly you’re getting better. Meski wajahmu masih pucat.
Hari pertama kau jatuh, ketika dalam perjalanan ke rumah sakit, di mobil, dalam keadaan sadar-tidak-sadar, kau berulang kali mengucap ‘aku sudah tidak kuat, aku sudah tidak kuat’, dan banyak orang khawatir, berpikir diam-diam kalau perjuanganmu sudah mencapai titik final. The end is near.
Tapi sampai detik ini kau masih di sini. Meski ini sudah kedua kalinya kau collapsed hingga harus ke rumah sakit, you’re still alive. Still smile. Still recognize me when I come. I hope the end is not near, Mom. I hope the end is not near. I pray for that.
Amin.
Untuk Ibu, yang mencintaiku dalam diam dan doa.

cerita yang sangat menyentuh. maaf aku waktu itu tak sempat menjenguk ke rumah sakit. pada saat yang sama, aku juga tengah menunggui kakakku yang telah terbaring hampir empat bulan lamanya di Kariadi.
Comment by udin — 05 November 2006 @ 16:08
it’s okay. maaf aku juga tidak tahu perihal kakakmu. mudah-mudahan dia segera sembuh.
Comment by basf — 05 November 2006 @ 17:27