Enjoying flirt is dangerous

09 January 2007, posted in sophie,

Bagaimana reaksi wanita kalau dirayu?

Tadi siang waktu liputan di sebuah kantor aku melihat pemandangan menyebalkan. Ceritanya dimulai waktu aku nongkrong di ruang humas, lalu diajak oleh salah satu sfat humas di sana untuk mengambil materi konferensi pers.

Si staf humas itu masih muda. Kurang lebih sebaya denganku. Kelihatan kalau masih lajang. Kulit putih, rambut cepak, lumayan oke untuk pemandangan para wanita kesepian.

Lalu di tangga, secara tak sengaja kami bertemu seorang wanita. Dia sudah tidak muda lagi. Sekitar 30-an tahun. Pinggulnya lebar tanda sudah pernah melahirkan. Cuma kulitnya memang putih, wajahnya lumayan menarik. Khas wanita metropolitan yang terawat.

Then, si pemuda humas itu tempted her.

Geblek!

Dan reaksi wanita itu, bah, ternyata tidak jauh beda dari gaya perawan kalau digombali: tersenyum, mengelak malu-malu kucing, tapi tidak meng-cut. Enjoy beibeh.

Geblek lagi!

Berikut sebagian dialognya (kukutip dari ingatan):

“Mbak, kok makin seger aja seh?”
“Ah… (ketawa kecil)… anakku sudah tiga lho..”
“(si pemuda ngomong bahasa sunda, ga paham artinya) senyum-senyum
“.. hhh.. anakku udah gede lho…” (masih tertawa kecil, memiringkan tubuh di tangga)
“lho.. justru tua-tua keladi, makin tua makin jadi…”
(si pemuda senyum, lalu berlalu, meninggalkan wanita itu yang masih tertawa kecil)

Hhhh… dasar-dasar…!!!

Aku berhasil mempertahankan ekspresi netral mendengarkan rayuan gombal 1980-an ala novel Freddy S itu. Tapi command centerku ga bisa netral. Ibu ini jelas bukan tipe wanita nakal –I’m sure of it. Dia insyaallah tidak memberi sinyal-sinyal ‘kepingin’. Dia wanita baik-baik. She just laughed.

Cuma, dari gesture-nya yang miring-miring di tangga, terlihat kalau dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya bahwa di usianya yang sudah 30 lebih masih ada cowok yang menggodanya. Masih mengagumi tubuhnya yang ’seger’.

Kalau kata tips-tips di majalah wanita abad 21: sometimes women do enjoy flirt.

***

Cuma, kalau diibaratkan perang, enjoying flirt means give more access for someone to go further. Berarti membuka resiko. Taking unnecessary risk. Si wanita itu akan kesulitan untuk mengelak dari fuckin’ dirty jokes yang (sangat besar kemungkinan) akan menimpanya.

Well, apa mau dikata. Sometimes women have the ilusion for control. They thought they can manage the fragile boundaries of enjoying flirt, that men should stop at the point she demanded.

But in reality, that’s not what usually happens. Pria, apalagi tipe hidung belang, cassanova, para oportunis, tidak akan mentah-mentah mematuhi garis yang dipatok. They will attempt to go further. So, you cant’ enjoy flirt without taking the risk of being sexually harassed. Itu seperti mau berdesakan di KRL tapi ogah terciprat keringat orang lain.

Sesuatu yang agak kurang realistis.

***

Cuma untungnya si pemuda itu tidak terlalu jauh menggoda. Belum kelewatan. And perhaps that’s why si wanita masih bisa tertawa dan miring-miring di tangga. Dia masih bertemu pria-pria yang cukup aman dan tahu batas. She’s still able to manage the fragile boundary.

Dan mudah-mudahan saja tetap begitu. Karena insyallah ibu yang kujumpai di tangga itu adalah wanita baik-baik. No dirty smile nor ‘inviting’ gesture. She just enjoyed the flirt.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://basf.blogsome.com/2007/01/09/enjoying-flirt-is-dangerous/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>