Encounter with Peter Sanders
27 February 2007, posted in personal,

KAMIS kemarin saya dan Niko (fotografer kantor) mengikuti Peter Sanders berburu gambar di ponpes Darunnajah. Kami ditemani Bu Edith, kepala humas kedubes Inggris. Kami janji bertemu jam 9 di hotel Mandarin Oriental.
Sanders adalah fotografer terkenal. Dia spesialis memotret dunia Islam. Meski bule asli (warga negara Inggris), Sanders seorang muslim. Dia sudah memotret komunitas Islam di berbagai negara -Maroko, Senegal, Mesir, Cina, Mali dll- sejak tahun 1971 (aku belum lahir, bahkan).
Kalau tidak percaya, coba search “Peter Sanders” di google. Ada cukup banyak situs berita online yang masih memajang foto-fotonya (antara lain BBC). Profil dia juga cukup banyak ditulis di katalog pameran fotografi atau surat kabar.
Sekarang usia Sanders sudah 60 tahun, dan masih juga bekerja. A very great person.
Sekitar jam 9 Sanders turun ke lobi hotel. Ia memakai kopiah dan jas hitam. Bu Edith memperkenalkan kami sebagai wartawan yang hendak mewawancarai dan melihat cara dia bekerja. Sanders mengangguk sambil tersenyum.
Sebelumnya Bu Edith menanyakan apakah saya bisa berbahasa Inggris. Kalau tidak berarti dia harus jadi penerjemah. Saya bilang bisa. Oke, kata Bu Edith, berarti ntar saya duduk di belakang, mas dan Sanders duduk di tengah biar bisa ngobrol. Sedang Niko duduk depan, dekat sopir.
Dalam perjalanan ke ponpes Darunnajah, Sanders lalu bercerita bagaimana awalnya dia bisa memeluk (convert to) agama Islam. Usianya waktu itu 24 tahun. A very interesting story.
Pada tahun 1960-an, ternyata Sanders sudah menjadi fotografer professional. Tapi waktu itu yang dipotretnya kebanyakan pentas musik (alias fotografer musik). Beberapa nama besar dalam dunia musik seperti Jimmy Hendrix, Rolling Stones, pernah dijepretnya.
1960-an di Inggris adalah era drugs dan sex. Slogan anti-perang “make love not war” sering diterjemahkan secara harfiah. Daripada perang, mending bercinta. Jadi tidak heran kalau pentas-pentas musik anti-perang sekaligus menjadi ajang drugs dan sex bebas.
Untungnya Sanders termasuk bersih. Dia tidak nge-drugs. Apalagi pada masa itu dia lebih terserap oleh pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya spiritual.
Untuk apa saya di sini? Apa arti hidup ini? Akan ke mana saya? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala saya, kata Sanders.
Lalu manajemen Rolling Stones mendekat. Sanders dapat tawaran menjadi fotografer Rolling Stones selama tur 3 bulan keliling Eropa. Tawaran itu ia tolak.
“Kenapa?” tanya saya
“Rolling Stones sangat berat kecanduan narkotik. Saya tidak mau terkurung selama tiga bulan bersama mereka. Rasanya tidak benar, ” katanya.
“I had a quiet life when I was young,” tambah Sanders lagi.
Hmm… kehidupan masa muda yang tenang? Entah kenapa mendengar istilah “quiet life” saya mendapat visualisasi pemuda yang pendiam, tidak banyak tingkah, lurus-lurus saja, dan jelas sangat tidak cocok dengan Rolling Stones era 1960-an yang radikal.
Cerita Sanders berlanjut.
Rupanya, dia serius dengan kegelisahan spiritualnya. Setelah menolak tawaran Rolling Stones, Sanders bertolak ke India untuk mencari pemahaman spiritual. Dia berguru pada seorang guru desa (semacam seikh) yang beragama Hindu dan tinggal di rumah gurunya selama 6 bulan. Dia mempelajari Hindu, Islam, dan agama Sikh di sana.
“It was a spiritual journey,” katanya.
Setelah 6 bulan tinggal di India Sanders kembali ke Inggris. Lalu suatu malam, dia bermimpi bertemu gurunya yang beragama Hindu itu. Dalam mimpi itu sang guru berdiri dekat sebuah ruang kelas, lalu tangannya bergerak memberi isyarat agar Sanders memasuki ruang kelas tersebut.
Sanders pun masuk. Dan ternyata ruangan itu berisi para siswa-siswa muslim yang tengah mempelajari agama Islam (semacam madrasah).
“Bagaimana Anda menafsirkan mimpi itu?” tanya saya
“Bahwa saya memang diarahkan untuk memasuki jalan itu,” katanya.
Sempat ada proses pemikiran dan perenungan usai mimpi itu. Tapi akhirnya Sanders mengambil sikap. Suatu malam di toko karpet milik sahabatnya yang seorang muslim, berlokasi di Chelsea, Sanders mengucapkan dua kalimat syahadat. Waktu itu tahun 1971. Usianya 24 tahun.
Setelah itulah kata Sanders dia tidak lagi memotret pentas musik. Pada bulan ramadhan di tahun 1971 itu, kata Sanders, dia pergi ke Maroko dan (lagi-lagi!) mencari guru spiritual.
Saya tidak tanya bagaimana sebenarnya proses dia mencari guru spiritual itu, dan bagaimana bisa ketemu. Tapi kata Sanders di Maroko dia akhirnya mendapat guru spiritual yang hebat, seorang seikh di madrasah tradisional di Maroko.
“Usianya 108 tahun. Ulama yang sangat hebat,” katanya.
Guru spiritualnya yang baru ini ternyata memang hebat. Sebab dia meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Kata Sanders, pada musim haji tahun 1971, sang guru hendak naik haji. Sanders pingin ikut. Tapi dia tidak punya uang.
“Saya terus berpikir bagaimana supaya bisa ikut guru. Tapi saya tidak punya uang. Tapi kemudian ada orang yang memberi saya tiket,” katanya.
Sanders dan gurunya pun naik haji ke Mekkah. Naik pesawat. Tapi sebelum menunaikan ibadah haji, sang guru meninggal.
(Dan saya pikir insyaallah itu meninggal yang khusnul khotimah, karena guru itu meninggal ketika dalam perjalanan untuk beribadah)
Selanjutnya Sanders naik haji sendiri. Ia memotret Mekkah, suasana haji, juga masuk ke dalam Ka’bah. Dia bisa memotret Ka’bah karena mendapat izin dari kerajaan Arab Saudi.
“Saya menghabiskan tiga minggu masuk dari satu kantor ke kantor lain, minta izin. Akhirnya izin dari kerajaan diberikan,” katanya.
Kata Sanders, di tahun 1971 itu belum banyak foto-foto tentang haji. Dia termasuk salah satu fotografer pertama yang memberikan gambaran dari dalam tentang ibadah haji. “Foto-foto itu dibeli banyak media di Eropa,” katanya.
Setelah itu kata Sanders dia mulai terus memotret dunia Islam di berbagai negara, terutama komunitas Islam tradisional dengan seikh-seikhnya yang keras. Sanders punya cerita lucu tentang kehidupan madrasah di Maroko.
Suatu hari, katanya, ada seorang kawannya di Maroko yang menunjukkan balur-balur bekas memar karena sabetan tongkat. Rupanya para seikh di Maroko kalau mengajar di madrasah juga membawa tongkat (kayak di madrasah saya dulu), dan kalau ada murid yang ribut atau bego, maka zingggg! tongkat itu akan menyabet secepat kilat, hehehe…
(maklum pengalaman pribadi. Dulu pernah disabet juga sama tongkat oleh Pak Bonjari, guru saya di madrasah, karena guyon terus)
Sanders yang masih belum akrab dengan sistem pengajaran madrasah tradisional itu lalu bertanya pada kawannya, apa yang kemudian dia lakukan terhadap seikh yang keras itu.
“Oh, I prayed for him everyday. He taught me how to read Quran!” kata Sanders menirukan ucapan kawannya, lalu tertawa.
Saya ikut ngakak.
Sekitar jam 11 siang mobil yang kami tumpangi akhirnya sampai di ponpes Darunnajah. Obrolan saya dengan Sanders pun berhenti.
***
DI kos, saya sempat merenung memikirkan perjalanan spiritual Sanders. Entah kenapa ada semacam perasaan malu. Dia sungguh-sungguh dalam perjalanan spiritualnya. Sedang saya, yang justru lahir dan dibesarkan dalam tradisi Islam, kadang-serius kadang-males dalam soal spiritual.
Padahal Sanders besar di Inggris, di tahun 1960-an ketika drugs dan free-sex dominan dalam balutan anti-perang. Sedang saya besar di Kaliwungu, desa kecil dengan puluhan madrasah tradisional, pengajian-pengajian, dan seikh-seikh tua yang terus setia mengajarkan Islam hingga kini.
Ah, Allah memang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya…
Catatan:
- Foto di atas adalah karya Sanders yang diambil di masjid Hassan Fathy, Qerna, Mesir Selatan. Foto itu menjadi cover buku Sanders yang berjudul In The Shade of The Tree yang berisi kompilasi 35 tahun perjalanannya memotret dunia Islam. Foto itu saya peroleh dari internet.
- Sejak tanggal 21 sampai 26 Februari diadakan pameran foto Peter Sanders berjudul “The Art of Integration” di aula Universitas Paramadina, Jakarta, yang didukung oleh kedubes Inggris. Rencananya pameran itu akan dikelilingkan ke kota-kota lain di Indonesia. Setelah dari Paramadina, selanjutnya foto-foto itu akan dipamerkan di Universitas Indonesia (tapi hanya fotonya, sedang Sanders sendiri sudah pulang ke Inggris).
