Ibu meninggal

03 April 2007, posted in personal,

Ibu meninggal. Di ranjang kamar rumah kami, jasadnya terbaring kaku. Mulutnya setengah membuka. Matanya terpejam.

Aneh… aku tidak menangis. Tidak saat itu. Tidak pada momen sesaat setelah dia meninggal. Hatiku diam. Aku justru mendekat. Memegang jarinya, mencium keningnya. Mengucap selamat tinggal.

Aku keluar rumah. Di luar gelap, masih waktu subuh. Orang-orang yang berjamaah subuh di musholla sepertinya belum bubar. Aku berdiri di jalan dekat rumah tanpa bicara apa pun.  Aku cuma ingin sendiri.

Kuambil sebatang rokok dari saku jaketku. Lalu aku mulai merokok…

***

Pagi tiba. Sekitar pukul 8 mbok tua tukang memandikan jenazah datang. Jasad ibu dipindahkan dari ranjang ke ruang belakang, dekat kamar mandi.  Jasad ibu ditaruh di atas dipan kayu.  Batang-batang pisang menjadi bantalnya.

Kain jarik dipasang untuk menutupi prosesi pemandian jenazah itu. Setelah selesai, aku, abang, adikku dipanggil. Kami, ketiga anaknya, diminta untuk mengangkat jasad ibu dari ruang belakang –memindahkannya ke ruang tamu.

Keluarga dan kerabat mengelilingi, menyaksikan dari dekat, saat kami bertiga bersiap di dekat jasad ibu. Abang di bagian kepala, aku di tengah, dan adikku di kaki. Sesuai aba-aba, kami bertiga menyusupkan tangan ke bawah jasad ibu. Membopongnya bersama ke ruang tamu.

Kurasakan tanganku menyentuh kulit ibu yang masih basah setelah dimandikan. Kulit di bagian pinggulnya. Terasa lunak kulit itu.

“Pelan-pelan..” terdengar suara (entah siapa)  memberi aba-aba.

Lalu kami sampai di ruang tamu.  Dipan kayu warisan mendiang nenek (yang diambil abang dari toko) sudah ada di ruang tamu. Perlahan kami bertiga membaringkan ibu di dipan itu. Saat menaruh jasadnya di dipan, saat melepaskan tanganku yang membopong bagian pinggulnya, kembali tanganku bersentuhan dengan kulit ibu… dan itulah terakhir kali kulitku bersentuhan dengan kulit ibuku.

Aku lalu undur diri ke belakang. Mandi. Hatiku masih diam. Aku tidak ingin memikirkan apa pun… Hanya mengguyurkan air banyak-banyak ke tubuh. Sedikit berlama-lama.

Lalu  aku dipanggil. Ternyata mbok tua itu sudah selesai mengkafani ibu.  Dia minta kami bertiga, anak-anaknya, melihat sebelum dia mengkafani bagian wajah ibu. Momen terakhir di mana kami bisa menyaksikan wajah ibu.

Aku bergegas keluar dari kamar mandi. Di dekat dipan sudah berkumpul abang dan adikku. Adikku lalu teringat sesuatu, dia lalu memanggil kekasihku –a quick good decision. Berempat kami lalu menyaksikan wajah ibu terakhir kali sebelum kain jarik itu menutup.

Barangkali seperti sebuah gerak lambat, aku masih bisa menyaksikan wajah ibu ketika kain jarik itu separuh menutup, separuh melayang di atas wajahnya.  Pada separuh momen itu aku masih bisa melihat raut ibuku, dan entah kenapa, tiba-tiba, aku merasa ibu begitu tenang.

Lalu kain jarik itu menutup. We never see her face again…

***

Pukul setengah 4, jenazah ibu disemayamkan di musholla.  Setelah sholat jenazah (dan sholat ashar), keranda pun diangkat.

Dari kampung ke pemakaman (berjarak kurang lebih 1 kilometer) aku bergantian mengangkut keranda itu, di depan sebelah kanan. Menjelang tiba di pemakaman, seorang pemuda kampung hendak menggantikanku mengusung keranda. I said no.

Lalu kami tiba di lubang kubur. Keranda diturunkan, dibuka, dan kakak sepupuku secara inisiatif turun ke liang lahat, menjadi penerima jenazah ibu di bawah.  Orang-orang kampung sempat saling menyuruh agar ada lagi yang menerima jenazah di liang lahat. (karena biasanya ada 3 orang yang menerima jenazah di liang lahat).

Dan sesuatu seperti mendorongku. Instingtif. And I made this small important decision..

Aku turun ke dalam kubur. Ke lubang tempat ibuku akan dikubur. Lalu adikku ikut turun.

Dari dalam kubur, kami bertiga menerima jenazah ibu yang diserahkan oleh orang-orang kampung di atas.  Kami bertiga menerima jenazah itu dengan gerakan seperti memeluk, lalu menaruhnya di liang lahat. Lubang kecil selebar kurang lebih 60 centi dan tinggi 90 centi.

Jenazah ibu dimiringkan, menghadap kiblat. Kakak sepupuku menghadap bagian kepala, aku di tengah, dan adikku di kaki. Bertiga kami memiringkan jasad ibu, lalu memasukkannya ke dalam liang kecil itu.

Bola-bola tanah liat yang berfungsi sebagai bantalan lalu diturunkan oleh orang-orang di atas. Aku menerima bola-bola itu, lalu melesakkannya ke bagian belakang jasad ibu, sebagai penahan agar jasadnya tetap miring menghadap kiblat.

Uhh… terlalu sempit ternyata. Bola-bola itu terlalu besar. Terpaksa jasad ibu semakin kumiringkan dan bola-bola itu agak kupaksa masuk. Satu bola di bagian pinggul, satu bola di dekat paha.

Pada momen itu…

Seperti ada suara lain yang berbicara secara spontan dalam diriku. Suara yang berjarak, dingin, yang menegaskan kembali apa yang sedang terjadi.

Aku memasukkan ibuku ke tanah…

Ah, otakku yang dingin dan ironis.  Pada momen seperti itu pun kau tidak kehilangan daya ironismu. Yeah, right, I put my mother on the ground.  Ibu yang kucintai dan sangat kuhormati ini kini justru kumasukkan ke dalam tanah. Ke liang lahat. Tempat di mana jasadnya akan hancur karena dimakan cacing dan karena proses pembusukan.

Adalah aku –anak yang mencintainya—yang justru membenamkan tubuh ibuku ke tanah.

Tapi mungkin memang begitulah skenario Allah.. dan aku bersyukur…

Sebab realitas itu seperti menamparku, menyadarkan bahwa ibuku sudah meninggal. Memaksaku menerima kenyataan itu dengan dingin –tak peduli betapa ironis atau menggiriskan.

She had died.

***

Lalu tali-tali kafan dilepas, dan kakak sepupuku meneriakkan adzan dan iqomat. Setelah selesai, papan-papan penutup liang lahat dipasang. Tubuh itu tidak tampak lagi. Kami bertiga naik ke atas, lalu orang-orang kampung mulai mengayun cangkul, menimbun lubang itu dengan tanah.

Aku juga ikut mengayun cangkul. Menimbunkan tanah ke lubang kubur ibuku. Makin lama timbunan itu makin tinggi. Setengah jam usai, dan kini ibuku terkubur sedalam 2 meter di dalam tanah. Sendiri.  Menanti malaikat munkar-nakir yang akan datang menanyai.

“Kapan malaikat kubur datang?” tanya kekasihku.
“Setahuku tujuh langkah setelah orang terakhir meninggalkan kubur,” jawabku.

Satu-persatu orang-orang kampung pergi. Sudah agak sepi. Tinggal beberapa orang lagi yang masih di sana. Aku lalu mengajak kekasihku pergi. Kupikir tidak perlu bila diriku memaksa menjadi orang yang terakhir meninggalkan kubur. Konyol dan berlebihan kiranya.

So we left.

***

Ah, mama, mama..

Kematianmu adalah sesuatu yang indah. You had a beautiful death. Sebelum meninggal, selama lebih dari 12 jam kau terbaring dalam sakaratul maut. Napasmu satu-satu, tapi ruhmu belum jua lepas. Kau seperti sengaja menanggungkan siksaan sakaratul maut itu.

Tapi, demi apa..? Demi menunggu bertemu anak-anakmu?

Tidak. Kukira tidak. Bukan demi itu. Bukan demi menunggu kami kau disiksa.

Aku sudah menangis sejak lama. Sejak berjam-jam (dan berhari) sebelum ajalmu tiba.  Jumat malam itu, saat di kereta bersama adikku, aku menangis saat menceritakan penjelasan ini. Penjelasan yang pernah kubaca, lalu tiba-tiba entah kenapa terlintas di kepalaku.

Penjelasan kenapa dirimu sampai perlu menanggung siksaan sakaratul maut itu…

Nabi Muhammad Saw bersabda, "Dahulu ada dua orang raja mukmin dan raja kafir. Raja yang kafir sakit. Ia menginginkan sejenis ikan bukan pada musimnya. Waktu itu, jenis ikan tersebut berada di dasar samudera. Para tabib yang putus asa menasihatkan agar raja segera mengangkat penggantinya. ‘Obat Baginda ada pada ikan ini. Kita tak mungkin mendapatkannya,’ kata mereka. Allah lalu mengutus salah seorang malaikat untuk menggiring ikan itu keluar dari lubangnya di dasar laut supaya orang mudah menangkapnya. Ikan itupun lalu ditangkap. Raja memakannya dan ia segera sembuh.

"Kemudian Raja yang mukmin juga jatuh sakit. Ia menderita penyakit yang sama seperti yang diderita raja kafir. Tetapi ia sakit pada waktu ikan yang menjadi obatnya itu berada pada permukaan laut. ‘bergembiralah, sekarang ini musim munculnya ikan itu,’ kata para tabib. Lalu Allah mengutus para malaikat untuk menggiring ikan-ikan itu dari permukaan laut sampai masuk kembali ke lubang-lubangnya di dasar laut. Orang-orang tak mampu menangkapnya.

"Para malaikat langit dan penduduk bumi keheranan. Mereka kebingungan. Kemudian Allah mewahyukan kepada para malaikat langit dan kepada para nabi di zaman itu, ‘Inilah Aku. Yang Pemurah, Pemberi Karunia, Mahakuasa. Tidak menyusahkan Aku apa yang Kuberikan. Tidak bermanfaat bagi-Ku apa yang Kutahan. Sedikit pun Aku tidak menzalimi siapa pun. Adapun raja yang kafir itu, Aku mudahkan baginya mengambil ikan bukan pada waktunya. Dengan begitu Aku membalas kebaikan yang ia lakukan. Aku balas kebaikan itu sekarang supaya ketika ia datang pada hari kiamat, tidaklah ada kebaikan pada lembaran-lembaran amalnya. Ia masuk ke neraka karena kekufurannya.

Adapun raja yang ahli ibadat itu, Aku tahan ikan itu pada waktunya. Dia pernah berbuat salah. Aku ingin menghapuskan kesalahannya itu dengan menolak kemauannya dan menghilangkan obatnya supaya kelak dia datang menghadap-Ku tanpa dosa. Dan dia pun masuk ke surga."

(hadist Qudsi)

Insyaallah, itulah penjelasan kenapa dirimu sampai menanggungkan siksa sakaratul maut berjam-jam. Bukan demi menunggu kami tiba dari Jakarta.

Insyaallah Allah membalas dosa-dosamu di dunia ini dengan siksaan itu, dengan sakitnya sakaratul maut itu, agar lunas dosa dan hutang-hutang itu, hingga amalan baik saja yang kau bahwa ketika menghadap-Nya…

For years, I’d  witnessed you doing things I can’t do untill today… Selama bertahun-tahun, hampir tiap malam aku menyaksikanmu bangun untuk sholat tahajud.. menyaksikanmu membaca surat Yaasin dan Al-Mulk setiap malam jumat.. menyaksikanmu bangun tepat subuh agar bisa berjamaah di musholla.. menyaksikanmu berangkat pagi-pagi mengikuti pengajian di masjid…menyaksikanmu sholat dhuha sebelum berangkat ke pasar… menyaksikanmu berdizikir memutar-mutar tasbih sampai tertidur…

Kau menjalani hidup sebagai abid (ahli ibadah) yang kuat. Rutin. Bertahun-tahun. Dalam kesendirianmu setelah ayah meninggal…

Jadi tidak, tidak.. bukan demi menunggu kami dirimu bertahan. Insyaallah bukan itu. Kami, anak-anakmu, adalah alasan yang terlalu rendah…

Jadi, mama, pada akhirnya memang insyaallah dirimu tidak punya masalah. Masalah adalah untuk kami, mereka yang ditinggalkan. Aku yang bersedih, yang menangis. Tapi tidak dirimu.

Ah… aku tidak ingin terlalu sentimentil. Tidak ada gunanya..

You lived a religious life, for years… and I shouldn’t have worry about you. I should have worried about myself, about my way of life… yang sampai sekarang masih jauh dibandingkan kualitas-kualitasmu.. May Allah help me…

Jadi, mom.. it’s the end. Insyaallah aku akan selalu mendoakanmu.

Terkadang diriku masih sentimentil bila mengingat dirimu. Namun insyaallah aku sekadar bergelombang, sekadar bergoyang air yang tenang itu.. tapi tidak lantas larut dalam kesedihan tiada berarti.

You died. Aku membenamkan jasadmu ke tanah.

Ke tanah, ke tanah
Tidur terakhirmu, ibu

Farewell…

 

 

7 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://basf.blogsome.com/2007/04/03/ibu-meninggal/trackback/

  1. “Bukanlah masa depan yang hilang dari kematian tapi masa silamlah yang hangus bagi orang-orang yang masih hidup di lingkaran si mendiang.”

    setelah melafalkan innalillahi, saya selalu menggumamkan kutipan Kundera itu.

    ikut sedih, bro!

    Comment by zen — 31 May 2007 @ 09:39

  2. Thanks Zen. Namun insyaallah aku tak sedih lagi.

    Comment by basf — 20 June 2007 @ 17:10

  3. Mas Basfin, tulisannya indah sekali. Aku sampai mau menangis dan tidak bisa berkata-kata.

    Comment by Fanny — 21 September 2007 @ 18:26

  4. Trims Fan. Waktu itu diriku memang lagi fully sentimentil. Wrote straight from the heart. Tapi sekarang insyaallah sudah tidak sentimentil lagi, tak sedih lagi.

    Comment by basf — 21 September 2007 @ 19:27

  5. mungkin sudah lama ibu anda meninggal,tapi jangan lupa kirim doa setiap hari sehabis sholat jika anda sayang dengan ibu anda……………………….bukan cuma sekedar tulisan atau tangisan.

    Comment by ipoeng82 — 16 September 2009 @ 00:17

  6. Turut duka cita yah well, semoga ibumu ditempatkan disurga yang tertinggi. Ibu mu meninggal bulan april 2007 yah? ibuku meninggal sebulan kemudian, 24 mei 2007, aku juga sangat sakit dan sampai sekarang aku masih merindukannya. Tak ada orang lain sebagai pengganti ibuku dilubuk hati ini.Selamat jalan ibu. Kehadiranmu terasa dihati anak2mu.

    Comment by Adi — 29 October 2009 @ 18:25

  7. amin..
    sekadar merindukan gpp, asal tidak sampai ga ikhlas. btw komentar sebelmnya benar juga. yg penting memang mendoakan habis sholat.

    Comment by basf — 30 October 2009 @ 19:25

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>