Two days in Singapore

22 February 2008, posted in personal,

Mengunjungi Singapura rasanya seperti masuk komplek orang kaya. Semua serba rapi, teratur, mengkilap. Perfect lah.

Tapi entah mengapa saya merasa masih ada cerita lain di balik kesan makmur negara ini. Mungkin cerita satu-dua orang, yang tidak begitu beruntung, hingga masih hidup miskin?

Is that possible, menemukan orang miskin di Singapura?

Well, entahlah.

Apalagi banyak pejabat Singapura dengan yakin mengemukakan fakta itu.

“You go down New York, Broadway. You will see the beggars, people of the streets…Where are the beggars in Singapore? Show me.”

–Lee Kuan Yew

“There are no homeless, destitute or starving people [in Singapore]…Poverty has been eradicated.”

-Kishore Mahbubani, Singapore’s permanent representative to the UN

Ya, ya, ya… anything you say, guys.

Saya lalu antri pemeriksaan imigrasi di bandara. Sempat terbayang satu skenario. Kebetulan foto saya di paspor berjenggot tebal, khas postur Islam militan (padahal cuma karena ga cukur 2 minggu).

Mungkin petugas imigrasi Changi yang galak itu akan mengajak ke ruang pemeriksaan sebentar? Random check?

“Could u come with us for minutes, Sir? Just a random check.” Smiling.
“Random check my ass. But sure, why not.” Smiling too.

Hehehe… untunglah tidak begitu.

Namun imajinasi itu cukup beralasan. Pasalnya, Singapura tidak bisa dibilang ramah terhadap ekspresi keberagamaan (especially Islam). Mereka melarang jilbab di sekolah di instansi, dan mendepak siswi yang membangkang.

(Tahun 2002, sempat terjadi ketegangan SARA di Singapura setelah dua siswi SD dikeluarkan karena memakai jilbab)

Anyway, petugas imigrasi itu hanya bertanya nomor penerbangan pesawat. Nothing more. Lalu bluk! Paspor langsung distempel. Saya pun officially have the right to enter Singapore. Dan tujuan pertama, apalagi kalau bukan toilet?

Lalu di toilet, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada seorang petugas cleaning service yang berdiri tegak di dekat pintu, posisi siap sempurna, ala tentara. Nothing’s weird about him. Biasa saja. Di dekatnya ada ember dan kain pel. Mata kami beradu sesaat.

Suddenly I realize… He’s very old.. too old… 60 tahun? 70 tahun, maybe? Rambutnya sudah putih, tipis, agak botak. Kulitnya keriput. Ia lalu menundukkan pandangan. Tidak berani menatap lama-lama.

Entah kenapa I feel uneasy… maybe, just maybe…

Pandangan matanya mengingatkan saya pada mata mbok-mbok tua yang masih berjualan di pasar. Mata yang menyimpan cerita hidup penuh kerja keras, namun pada saat bersamaan, kekurangan.

“Ah, sudahlah. That’s only my imagination. I know nothing about the old man.”

Saya hanya melirik kakek tua itu –yang masih berdiri tegak dekat ember– ketika keluar toilet. I think nothing of him. Rombongan kami kemudian keluar dari kompleks bandara Changi, menanti bus yang akan menjemput sambil merokok dulu

(It’s okay merokok di luar gedung, dekat dustbin)

Tidak lama bus datang. Saya pun naik, duduk dekat jendela. Perlahan bus meninggalkan bandara, menyusuri jalan-jalan yang tertata rapi. Lalu, di dekat gerbang keluar, secara tidak sengaja saya menoleh dan pemandangan itu tersaji begitu nyata. Punch me in the head.

Seorang pria keturunan India, agak tua, berambut putih, duduk di atas beton dekat taman. Pakaiannya lusuh, coklat kehitaman. Dua tas plastik ada di sampingnya. Di dekat kakinya ada lagi plastik besar.

Tangannya memegangi plastik itu, seakan barang yang sangat berharga. Pandangan matanya menatap jauh ke depan, seperti menerawang.

Betapa menyedihkan…

Di kompleks orang-orang kaya ini, ternyata masih ada orang yang mencengkeram plastik sampah begitu erat… don’t let them go. Apa yang ia pikirkan?

Mungkinkah ia akan mendatangi Lee Kuan Yew dan berkata, “I’m here!”

Well, no. Ia mungkin tidak pernah tahu Lee Kuan Yew pernah berucap sesombong itu. Tidak pernah tahu bahwa Singapura secara resmi menyatakan bahwa “poverty has been eradicated”.

He just hold his plastic bag tightly. dont let them go.

(Lalu seorang kawan memberitahu bahwa homeless seperti itu biasanya akan diciduk karena merusak pemandangan)

Penjelasan lebih serius tentang fenomena kemiskinan di Singapura akhirnya saya dapatkan setelah mengunjungi situs SDP (Singapore Democratic Party), partai oposisi di Singapura.

Beginilah kata mereka:

The reason why the poor in Singapore are not more visible is that the Ministry of Community Development and Sports conduct frequent raids through its Destitute Persons Service, looking for and picking up vagrants. If Singapore seems to have less destitute, it is not because the numbers are not present. The real reason is that the PAP Government is just much more efficient in clearing the streets of homeless people.

SDP (Singapore Democratic Party)

Lalu di beberapa blog warga Singapura, saya mendapat penjelasan bahwa ternyata beggars (pengemis) memang tidak ada Singapura, karena pemerintah Singapura menyukai istilah yang lebih “netral”.

Istilah yang populer adalah sleepers (orang yang tidur di jalan).

Ironis, bukan? Well, tapi begitulah Singapura.

(Negeri yang dalam istilah Goenawan Mohamad adalah seperti rumah sakit, di mana warga adalah pasien. :mrgreen: )

Makanya kaum muda Singapura sendiri juga bermain-main dengan istilah itu. Di beberapa forum online, ada yang mengusulkan agar istilah “sleepers” diganti menjadi “urbanly challenged citizen” (warga yang tertantang secara urban)

Ha..ha..ha…

Saya mau tidak mau jadi tertawa mendengar istilah “urbanly challenged citizen”. Begitu canggih, begitu ironis, sekaligus begitu mengaburkan realitas yang sebenarnya.

They’re beggars, homelesss.. whatever you might call them, the fact remains!

Singapura memang bukan Indonesia yang memiliki lebih banyak pengemis dan lebih akut dalam masalah kemiskinan. Tapi mengatakan tidak ada pengemis, lalu mempopulerkan istilah “sleepers”, adalah sebuah penghinaan terhadap eksistensi para wong cilik itu. Penghinaan terhadap eksistensi manusia.

Ah Pak Lee, Pak Lee.. you damn sure have a big mouth.*

Berikut beberapa link:

- Blog Lucky Tan, blogger Singapura yang menulis soal “sleepers”. Clik here

- Situs SDP yang menulis soal kemiskinan di Singapura. Clik here.

- Artikel di CSMonitor, menceritakan ketegangan SARA setelah dua siswi SD dikeluarkan karena bersikeras memakai jilbab pada 2002. Clik here.

- Saya ke Singapura dalam rangka meliput Singapore Airshow 2008. Here’s my picture, standing in front of US Jet Fighters.

Image Hosted by ImageShack.us

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://basf.blogsome.com/2008/02/22/two-days-in-singapore/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>