Doa minus pajak
04 April 2008, posted in personal,
Ada kejadian lucu yang melibatkan sebuah doa. Ceritanya dimulai waktu ada peresmian kantor pajak baru di daerah Jakarta Selatan. Aku ikut peresmian itu karena kebetulan narasumber yang lagi kukejar ada di sana.
Setelah mendengarkan sambutan, pemukulan gong dll (termasuk makan dulu hehe), akhirnya acara ditutup oleh doa. Seorang pria setengah baya lalu berdiri di depan hadirin. Memimpin doa dalam bahasa Indonesia.
Waktu dia mengajak hadirin untuk membaca surat Al Fatihah, aku pun ikut. Masa sih diminta baca Al Fatihah saja ga mau. Kan pahalanya juga buatku sendiri, pikirku.
Selesai Al Fatihah, barulah dia memanjatkan doa kepada Allah. Sedang hadirin mendengarkan dengan kepala tertunduk, kedua tangan membuka –ikut mengamini.
Aku juga ikut mengamini dengan kepala menunduk, meski sebagian besar wartawan yang meliput bersikap netral saja. Sebagian malah ada yang terus mondar-mandir, motret, dll.
“Ya Allah, tunjukkanlah yang benar itu benar,” kata pembaca doa (amin, jawabku pelan)
“Tunjukkanlah yang batil itu batil” (amin juga)
“Berilah kami rahmat (amin lagi)
“Kasihanilah kami (juga amin)
Selama hampir 5 menit aku terus menunduk dan mengamini, sebisa mungkin berusaha khusuk, karena insyaallah doa yang baik memang sebaiknya diamini.
Lalu di penghujung doa, laki-laki itu mengucapkan doa terakhirnya.
“Ya Allah, mudah-mudahan penerimaan pajak tahun ini sesuai target…”
Harakadah!!
Aku kaget mendengarnya. Secara instingtif aku ga mengamini doa yang ini. Ini doa nggapleki! Sangat bersifat internal buat aparatur pajak.
Padahal aku sudah berusaha khusuk mengamini. Eh malah ketemu doa yang ga relevan kayak begini.
Sialan.
Seorang wartawan yang duduk di belakangku kemudian terkekeh pelan mendengar doa ini.
***
Yah, aku tahu kalau itu memang acara peresmian kantor pajak. Sebagian besar hadirin adalah orang-orang pajak. Tapi menurutku doa yang spesifik meminta pemasukan pajak sesuai target adalah kebangeten. Apalagi diucapkan dalam sebuah doa resmi yang melibatkan banyak orang.
Ini kan kelewatan. Selain itu acara ini kan juga mengundang orang luar. Ada undangan VIP yang terdiri dari wajib pajak, kalangan professional, serta mantan-mantan pejabat yang kini sudah pensiun. Masak semuanya dilibatkan untuk mendoakan agar penerimaan pajak sesuai target?
Kupikir doa internal seperti itu tidak pantas untuk sebuah acara yang bersifat semi-terbuka. Selain itu dari segi derajat, duh… kok degradasinya jauh banget…
Berdoa agar Allah menunjukkan yang benar itu benar, dan yang batil itu batil, jelas doa yang high-level. Kelas berat. Kalau doa itu dikabulkan Allah, insyaallah bisa menjadi tiket selamat dunia-akhirat.
Masa kemudian turun level ke doa yang bersifat result-oriented? Sempit sekali…
Tapi aku tetap ikut berdoa dan ikut mengamini (meski untuk doa pajak itu diriku cenderung abstain).
Hehehe… , doa pajak itu memang lucu…

mungkin doanya harus diganti, bang… ‘ya allah, kuatkanlah kemauan hati kami dalam melaksanakan amanah yang dipercayakan kepada kami sesuai dengan jalanmu’… kalu ini, awak nak amin juga lah.
Comment by cemara — 15 April 2008 @ 18:58
sama met. awak amin juga kalau doanya indah begitu.
Comment by basf — 17 April 2008 @ 10:57
he..he..gue jd ikutan ketawa juga…lucuuuuuu ah..
Comment by ferdinans_jager — 19 April 2008 @ 00:20
eh..hrsnya tambahin..ya Allah kuatkan iman kami agar tidak lancang mengambil uang yg bukan menjadi hak kami.
Comment by ferdinans_jager — 19 April 2008 @ 00:22
yup, itu juga doa bagus, mr. jager, layak diamini, tapi kayaknya orang pajak ngga akan ngucapin doa itu terang-terangan, soale seperti menyindir diri sendiri hehe
Comment by basf — 23 April 2008 @ 16:15