Bertemu An-Naim

14 December 2007, posted in news, 2 Comments

Image Hosted by ImageShack.us

Saya lupa memposting wawancara menarik ini. Akhir Juli lalu, saya (and my editor,) menjumpai Abdullah an-Naim untuk wawancara khusus.

Abdullah an-Naim adalah pemikir Islam terkenal asal Sudan, sekaligus kontroversial. Pandangannya yang kerap mendapat kritik adalah syariat sebagai sesuatu yang sakral sekaligus produk budaya manusia.

Naim datang ke Indonesia karena diundang oleh penerbit Mizan. Buku terbarunya berjudul “Islam dan Negara Sekular: Menegosiasikan Masa Depan Syariah” diterbitkan Mizan akhir Juli lalu.

Edisi bahasa Indonesia ini justru mendahului versi bahasa Inggris. Versi bahasa Inggris baru akan diterbitkan pada tahun 2008, rencananya, oleh Harvard University Press.

Naim menginap di hotel Kristal, Jakarta Selatan. Wawancara akan berlangsung di kamar hotelnya. Kami sampai di hotel sekitar jam 7 dan segera menuju kamarnya. Naim menyambut hangat. Rupanya ia sudah menunggu. Saya perhatikan sepertinya ia baru selesai sholat maghrib. Soalnya saya lihat sajadah tersampir di lemari dekat TV.

Awalnya ngobrol ngalor-ngidul dulu. Perbincangan dilakukan dalam bahasa Inggris. Dia tanya kami ingin minum apa. Kopi aja deh. Ups, ternyata ga ada air panas. “Sori, saya masak air dulu,” kata Naim (hehehe, in english tentu)

My editor awalnya sudah memberikan background tentang pemikiran Naim. Ia bilang bahwa Naim memang agak trauma dengan negara. Ia menduga itu ada kaitannya dengan fakta bahwa gurunya, Mahmoud Ali, divonis mati oleh negara karena dianggap menyimpang.

(Well, that makes sense. Plato juga menolak demokrasi karena justru demokrasi –alias suara terbanyak— membuat gurunya, Socrates, harus meminum racun)

Naim sendiri memang tegas menolak konsep negara Islam. Dia bilang ide negara Islam adalah sesuatu yang secara konseptual tidak valid.

Selama wawancara, my editor (background pesantren-nya kuat, alumnus jurusan syariah UIN) yang lebih banyak mendominasi pertanyaan. Dia terlihat jelas bisa mengimbangi pemikiran Naim. Wawancara pun mengalir, seperti diskusi, bahkan debat.

Saya ingat ketika kami sampai pada soal negara Islam, di mana negara memiliki hak untuk memaksa penduduknya sholat. Jawaban Naim atas konsep itu sangat tegas. (more…)

Pengajian Ridho Allah

09 November 2007, posted in news, 4 Comments

Selasa kemarin (6/11) saya bertandang ke sekretariat Yayasan Ridho Allah di Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

It was an assignment. Gatra lagi meliput soal maraknya aliran sesat gara-gara fenomena Al Qiyadah. And somebody tipped off my editor kalau pengajian Ridho Allah layak dicek.

“Pengajian Ridho Allah melakukan pengobatan dengan memanggil ruh” -begitu asumsi yang tertulis di penugasan.

So I went there, had a deep interview with its leader (a very cooperative man), dan menemukan fakta bahwa meski insyaallah tidak sesat, pengajian Ridho Allah memang, well, differente

Ketua pengajian ini, Antono Basuki (52 th) has a deep contact with the afterlife world. In other words, alam gaib.

Antono banyak berhubungan dengan alam jin dan ruh. Ia misalnya bilang kalau pesulap terkenal David Copperfield menggunakan jin dalam atraksi sulapnya.

How does he know? Simple and first-hand: he talked with the jinn involved.

Unsur alam gaib inilah yang membuat pengajian Ridho Allah jadi berbeda. Tapi di luar itu insyaallah tidak ada hal yang kontroversial. Dari segi aqidah mereka tetap mainstream. Tetap sholat lima waktu, dan tidak menganggap aliran sendiri paling benar.

Gatra menurunkan laporan saya tentang pengajian ini di edisi 14 November 2007. Tapi sayang, hikss… cuma 2000-an karakter! Dibuat gaya straight news lagi!!

Padahal aku nulis laporannya sampai 6000 karakter lebih. Wawancaranya pun dari jam 4 sampai jam 7 malam!!! Huaaaaaa… hikss..hikss…hikss :cry:

Ehmm.. ga nangis, ding. Bercanda. Masalahnya ada pada keterbatasan space, said my editor. He also apologized me for cutting the article so short. He is a professional.

Meski demikian, saya merasa sayang kalau liputan pengajian Ridho Allah yang menurut saya cukup mendalam itu tidak dibaca.

So, I decided to post it here, in my blog, the original version of the my Ridho Allah reportage.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi gambaran lebih tentang karakteristik pengajian Ridho Allah.

Here it is:

“Saya hanya mengajarkan ikhlas,” begitu kata Antono Basuki, 52 tahun, ketika ditemui di sekretariat Yayasan Ridho Allah, Jl. Guru Serih Raya No. 7 Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Antono sehari-hari bekerja sebagai kontraktor di PT. Nindya Karya (Persero). Ia alumnus jurusan teknik sipil Universitas Gadjah Mada (UGM). Tapi selain menjadi kontraktor, ia menjadi ketua dari 200-an orang yang bernaung di bawah Yayasan Ridho Allah.

(more…)