Pengumuman: I’m leaving blogsome!

17 July 2008, posted in personal, 0 Comments »

PINDAH!! PINDAH!! PINDAH!!!

Setelah setahun lebih ngeblog di sini, I think it’s time to say goodbye. Dua hari lalu saya baru saja menyewa server sendiri, sekaligus mendaftarkan domain sendiri.

http://www.basfinsiregar.com

Di sanalah saya ngeblog sekarang. My new home in blue nowhere.

Cukup banyak sebenarnya postingan2 penting yang saya taruh di sini. Misalnya about my marriage and the death of my mother. Tapi saya belum berpikir untuk memindahkannya ke situs baru saya.

Perhaps, postingan2 itu sebaiknya tetap berada di sini. Mudah2an server blogsome tetap jalan dan my account tidak didelete setelah saya tidak lagi aktif di sini.

Tapi kalau toh blog ini didelete oleh admin, well, apa boleh buat. Perhaps it’s really a sign that I have to move on.

So, ini mungkin posting terakhir saya di blogsome. Trims a lot buat teman2 yang telah banyak memberi masukan selama saya menetap di server ini.

I’ll see u soon at my new home.

Sewa server sendiri?

20 June 2008, posted in personal, 3 Comments

Saya sedang berpikir untuk menyewa server sendiri. Have my own domain, www.basfin.com, maybe? hehehe..

Kenapa masih perlu mikir, well, coz it’s all about money. Masih banyak kebutuhan lain yang –bisa jadi– jauh lebih urgen dari sekadar sewa server.

Misalnya saja beli kulkas (yg agak gede), mesin cuci (probably), pasang ac (masih probably lah) atau laptop ASUS core 2 dua dg memory min 1 giga (hehe), atau mungkin apartemen di rasuna? (haiyah.. nek ini ndobol tenan..)

Hanya masalahnya blogging is semacam hobi. Aktivitas klangenan. Pararel dengan orang Jawa yang hobi melihara perkutut, ikan, atau merpati.

And hobby needs money. Dan ketika sudah sampai urusan ‘money”, secara otomatis otak kiri biasanya bergegas. Command center on, mengkalkulasi. Can i afford it? Do i really need it? Is it really useful?

Hmmm.. perhaps I can afford to pay for my own server. But why should I?

Setiap orang terkadang butuh alasan sendiri untuk bergerak. Kalau dalam film Patriot yang dibintangi Mel Gibson, ia baru berperang melawan pasukan Inggris setelah anaknya terbunuh. Before that, he chose to stay uninvolved.

Mungkin urusan sewa server ini akan jadi makin serius ketika tiba-tiba server blogsome hang, atau dihack, hingga semua tulisan saya di sini hilang. Bisa jadi saat itu baru saya mulai bergerak.

Hmm.. kok ribet ya? Well, seandainya saya bergaji seperti narasumber2 yang saya wawancarai, yang sekali makan siang bisa habis Rp 500 ribu, tentu urusannya tidak akan ribet, hehe

Tapi harap maklum. Sebagai warga kelas-menengah-terkadang-nyaris-ke-bawah, money does matter. Dan beginilah cara saya untuk tetap survive di tengah naiknya harga minyak dunia yang mengimbas harga barang kebutuhan pokok dan memaksa pemerintah RI mencabut subsidi minyak agar bisa menyesuaikan dengan harga internasional yang terus naik itu yang sebenarnya merupakan ulah para spekulan2 brengsek di Nymex dan ICE Futures London dan mengabaikan fakta bahwa rakyat Indonesia –saya di antaranya– masih belum memiliki pendapatan internasional.

Mungkin saya sebaiknya bekerja di oil company saja? Exxon atau ConocoPhillips? Hmm.. that’s quite a thought. Saya misalnya bisa menjadi media officer dan meyakinkan publik kalau oil company is not greed, bahwa pajak yang mereka bayar dan program CSR mereka adalah bukti tulus betapa oil company sangat menghargai kesediaan pemerintah RI untuk dikuras kekayaan alamnya lewat mekanisme kontrak karya yang sama-sama menguntungkan kedua belah pihak.

Bagaimana ya? Sepertinya menarik. …but the answer is no. I love my job now.

So? yah, sepertinya ide menyewa server sendiri harus masuk waiting list dulu di salah satu sel-sel kelabu di kepala. But who knows. Sometimes saya juga bosan being organized, compact, and structurized seperti tradisi filsafat Jerman.

I do sometimes can be impulsive, sporadic, and just fly in the air. Posting yang sedang Anda baca ini adalah buktinya.

Doa minus pajak

04 April 2008, posted in personal, 5 Comments

Ada kejadian lucu yang melibatkan sebuah doa. Ceritanya dimulai waktu ada peresmian kantor pajak baru di daerah Jakarta Selatan. Aku ikut peresmian itu karena kebetulan narasumber yang lagi kukejar ada di sana.

Setelah mendengarkan sambutan, pemukulan gong dll (termasuk makan dulu hehe), akhirnya acara ditutup oleh doa. Seorang pria setengah baya lalu berdiri di depan hadirin. Memimpin doa dalam bahasa Indonesia.

Waktu dia mengajak hadirin untuk membaca surat Al Fatihah, aku pun ikut. Masa sih diminta baca Al Fatihah saja ga mau. Kan pahalanya juga buatku sendiri, pikirku.

Selesai Al Fatihah, barulah dia memanjatkan doa kepada Allah. Sedang hadirin mendengarkan dengan kepala tertunduk, kedua tangan membuka –ikut mengamini.

Aku juga ikut mengamini dengan kepala menunduk, meski sebagian besar wartawan yang meliput bersikap netral saja. Sebagian malah ada yang terus mondar-mandir, motret, dll.

“Ya Allah, tunjukkanlah yang benar itu benar,” kata pembaca doa (amin, jawabku pelan)
“Tunjukkanlah yang batil itu batil” (amin juga)
“Berilah kami rahmat (amin lagi)
“Kasihanilah kami (juga amin)

Selama hampir 5 menit aku terus menunduk dan mengamini, sebisa mungkin berusaha khusuk, karena insyaallah doa yang baik memang sebaiknya diamini.

Lalu di penghujung doa, laki-laki itu mengucapkan doa terakhirnya.

“Ya Allah, mudah-mudahan penerimaan pajak tahun ini sesuai target…”

Harakadah!!
(more…)